Kamis, 26 Juni 2014

Cerita Ngentot Marlena

Hai, perkenalkan.. namaku Andrew xx,
anak bungsu pasangan Ronny xx dan Widya xx (samaran). Keduanya pengusaha-pengusaha senior di Indonesia.
Meski terlalu kecil untuk bersaing dengan Liem Sioe Liong atau Prajogo Pangestu,
tapi kami masih cukup punya namalah di Jakarta. Apalagi kalo di lokasi pabrik Papa di Semarang atau konveksi Mama di Tangerang.. Eh, aku lupa. Aku biasa dipanggil Andru, tapi di rumah aku dipanggil A Bee atau Abi. By the way, sebenarnya ini adalah kisah tahun 1990. Ya, ini adalah kisah 13 tahun yang lalu..

Tahun itu, aku baru naik kelas 2 SMP. Umurku saat itu masih 13 tahun dan akan 14 Desember nanti. Mm.. SMP-ku dulu lumayan ngetop, sekarang ngga terlalu.. sekarang cuma tinggal ngetop mahal dan borjunya aja. Aku sendiri termasuk yang 'miskin' di sana, abis aku cuma diantar jemput sama ciecie-ku aja sedang yang laen kadang dianter jemput sama sopir pake mobil sendiri (baca: yang dikasih ortunya buat dia)

Kakak perempuanku yang sulung, Sinta, tapi dipanggilnya Sian buat temen sekolah/kuliahnya. Cie Sian baru-baru aja mulai kuliah. Usianya waktu itu 18 tahun. Sedang kakak perempuanku yang kedua, Sandra, yang biasa dipanggil Sandra atau Apin, baru masuk SMA dan usianya 15. Hehehe.. kalo berangkat aku dan Cie Pin suka nebeng Cie Sian. Tapi kalo pulang, Cie Pin naik bis sedang aku dijemput Cie Sian. Tapi mulai kelas 2 ini aku sudah bertekat pulang naik metro mini atau bajaj sama temen-temen. Cie Sian cuman tersenyum aja aku bilang gitu..

Cuma gara-gara naik bis itu, Tante Vi, sekretaris Mama khusus buat di rumah -dan gara-gara kekhususannya itu kami suka ejek dia butler alias "kepala pelayan" hehehe- jadi sedikit sewot. Tapi bagusnya, uang sakuku jadi bertambah. Katanya sih buat naik taksi atau makan di jalan kalo laper. Ya, lumayanlah. Buat ukuran anak SMP tahun 1990, yang meskipun di sekolahan termasuk yang miskin, tapi uang sakuku yang duaratus ribu sehari mungkin ngga kebayang sama temen-temenku yang sok kaya. Lagian aku buat apa bilang-bilang.. kalo gini kan ketauan mana yang temen mana yang bukan.. soalnya anak SMP ku itu dari dulunya, juga pada waktu itu, bahkan sampai sekarang. Terkenal matre.

Well, dan gara-gara kata matre itu pula yang bikin aku bisa ngeseks sama Vonny, anak kelas 3 yang sangat cantik tapi sangat memilih pasangan jalannya itu. Juga sama Mbak Maya, temen SMA nya Cie Pin. Hehehe, untung aja Ci Pin ngga pernah tau sampe sekarang.. pasti heboh waktu itu kalo dia tahu.

Eh, tapi.. aku pertama kali ngerasain yang namanya 'ngentot' bukan sama mereka ini loh.. Pasti kalian ngga pernah kebayang deh sama siapa aku pertama kali ngerasain badan cewek. Oh, bukan sama Tante Vi tadi.. apalagi sama perek atau pelacur (itu sih jijay!hii..) Mau tahu? Sama seorang sales promotion girl bernama Marlena.

Ceritanya, siang-siang pulang sekolah kami iseng pengen tau seperti apa sih yang namanya Pameran Produk Indonesia (PPI) di silang Monas. Well, kami liat-liat di sana ternyata sepi-sepi aja kecuali di beberapa stand/gedung pameran seperti mobil. Dan di stand itulah saat itu aku tersadar sudah terpisah sendirian dari temen-temenku.. Rese' nih pada ngga bilang-bilang kalo kehilangan..

"Siang, Ko.. pulang sekolah ya?" seorang dara putih manis berlesung pipit dan berambut ikal sepundak menegurku dengan senyum yang paaling indah menawan yang pernah kusaksikan seumur hidupku. Aku balas tersenyum pada SPG yang ramah tapi agak sok akrab itu, "Iya Cie..", Aku panggil dia Cie sebab jelas-jelas usianya lebih tua daripada aku, mungkin 21 atau 22 tahunan. Aku kan masih 13 tahun dan pasti keliatan karena aku kurus, kecil, pendek, dan masi pake celana SMP..

Ciecie itu tertawa sumringah, "Ih, kamu ini pasti langsung kemari abis sekolah.. bandel, ya?!" candanya dengan senyum menggoda. Aku terkekeh juga, meski rada keki dibilang bandel, "Emang iya. Tapi aku kan udah bilang Cie Sian mau kemari..", Ciecie itu tersenyum ramah, "Ciecie kamu umur berapa?", "18..", jawabnya.

Dia tersenyum, "Mmh ya bolehlah.. berarti kamu ngga kelayapan.."
Aku tertawa, "Hehehe ciecie bisa aja.. "
Lalu aku menudingnya, "Ciecie ini namanya siapa?"
Dengan gaya bak peragawati, dia membetulkan posisi nametag-nya yang miring sehingga dapat jelas kubaca, "M-a-r-l-e-n-a.. Namanya cantik, Cie.."
Dia tersenyum, "Aduh makasih banget, tapinya ngga ada recehan nih.. pake brosur aja ya?"
Aku tersenyum dan mengambil juga brosur yang ia tawarkan.
"Wow, ni mobil keren juga, nih.." aku sampai bersiul terkagum-kagum pada barang dagangannya.. (well, saat itu teknologi DOHC baru pertama kali muncul di Indonesia.. wajar dong kalo aku saat itu kagum berat..)
"Iya, dong.. siapa dulu yang jualan" katanya tersenyum sambil menepuk dada.

Dan saat itulah aku mulai memperhatikan baju kausnya ketatnya yang menonjolkan buah dadanya yang lumayan besar.. hmm.. dan rok mininya yang ketat tipis sepaha itu, seolah-olah bila kakinya terbuka sedikit lebih lebar maka aku dapat melihat celana dalamnya.. Maka tidak usah ditunggu lagi, aku segera mengikuti kemanapun ia bergerak menerangkan presisi dan kemampuan mobil itu, sambil bersyukur jadi orang pendek.

Hehehee.. Beneran deh, dengan tinggiku saat itu yang 134 cm, kalian seolah-olah bisa mengintip isi rok mini Cie Lena yang tingginya 170 cm lebih dan pake sepatu hak tinggi pula. Makanya aku tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk duduk di dalam mobil sementara ciecie itu menjelaskan dari luar dengan sebelah kaki menginjak sandaran kaki..
Tapi aku yakin mukaku menjadi kemerah-merahan, sebab ciecie ini dari tadi bagaikan tertawa maklum dan betul-betul sapuan matanya menyapu wajahku terus-menerus.. sampai tiba-tiba aku bagai tersadar dari lamunan..

"..gimana? udah keliatan belon?"
aku terkaget-kaget di tempat duduk menatap wajahnya yang tersenyum manis, "apanya, nih?"
dia tersenyum lalu gerakan matanya menunjuk arah diantara kedua kakinya yang membuka sambil berkata pelan, "..celana dalemnya ciecie.."

nah, kebayang kan gimana malunya dan merahnya mukaku saat itu ditembak langsung begitu.. untung dia ngomongnya ngga kenceng. Lalu dia mendekatkan diri padaku dan berkata, "dari tadi ciecie liat kamu berusaha liat dalemannya ciecie, jadi tadi ciecie sengaja angkat kaki sedikit biar kamu engga penasaran.. udah liat, kan? Ciecie pake warna coklat muda..". Aku yakin mukaku semerah kepiting rebus. Tapi Cie Lena tersenyum maklum dan membimbingku bangkit dari tempat duduk sopir dan berkata keras, "Ikut Ciecie ya Ko kecil.. Ciecie akan kasi liat kemampuan ini mobil supaya bisa bilang-bilang sama Papa, ya?"

Dan seorang pria muda berdasi yang berdiri tidak jauh dari kami tersenyum lebar mendengar ucapannya itu sambil mengacungkan ibu jari. Tapi kulihat Cie Lena cuek aja, malah mengerdipkan sebelah matanya padaku.
Kami menuju pelataran parkir luar dimana sebuah mobil serupa dipamerkan -dan nampaknya bisa dicoba. Cie Lena memintaku duduk di depan sedang dia sendiri menyetir.

Gugup juga aku waktu liat dia di kursi sopir duduk agak mekangkang sehingga dengan rok mini super pendeknya aku tahu pasti terdapat celah terbuka yang bila aku duduknya maju sedikit pasti aku bisa melihat.. ehmm.. anunya.. yang katanya coklat muda itu..

Cie Lena tertawa geli melihatku rada panik. Melajukan mobil keluar kompleks silang Monas, ia berkata, "Nah sekarang kamu bisa liat celana dalam Ciecie puas-puas tanpa perlu takut ketauan.."
Aku sangat malu. Tapi aku tidak bisa menahan diriku untuk menyandarkan kepalaku ke dashboard sehingga bisa mengintip sesuatu diantara kedua paha mulus ciecie ini..

Dia tersenyum, "Namamu siapa sih, Say?"
"A Bee."
Dia tersenyum, "Nama yang bagus."
Lalu dia menoleh menatapku sebentar, "Kamu belum pernah liat cewek telanjang ya, Say?"
Aku menggeleng pelan.
"Pengen tau, ya?" dia tersenyum, "Pasti pernah nyoba ngintipin ciecie-mu ya?"
Kali ini aku mengangguk pelan.
Dia tertawa.
"Mau liat Ciecie telanjang ngga, Say?"
Aku cuma bisa menelan ludah gugup. Ciecie seseksi ini mau telanjang di depanku?
Dia tersenyum, "Tapi Say, Ciecie boleh minta duit kamu sedikit ya? Ciecie perlu bayar uang kuliah sama beli buku nih.."
Aku masih terdiam membayangkan dia telanjang di depanku.. Waah, pasti di antara kakinya itu ada..
"Kamu boleh liat badan Ciecie semuanya, Say.." katanya memutus lamunanku, "Ciecie sayang sama kamu, abis kamu imut sih.."
"Ciecie emang butuhnya berapa duit?" aku memberanikan diri bertanya.
Dia tersenyum dan jarinya menunjuk angka 1..
"I Pay.."
Cuma segitu? Yah, kalo cuma segitu sih.. uang sakuku sehari juga lebih dari itu.. Aduh, dengan uang segitu, dia mau telanjang di depanku supaya dia bisa kuliah..
"Cie.." kataku nekat, gejolak di kepalaku sudah memuncak di napas dan kontolku nih..
"..tapinya aku boleh cium Ciecie, ya?"
Cie Lena agak kaget, aku terlalu polos atau kurang ajar, ya?
Tapi dia tersenyum.
"Makasih, A Bee Sayang.."

Lalu, Cie Lena mengarahkan mobil contoh itu ke sebuah tempat di Kota (aku ngga tau namanya, waktu itu kami kan tinggalnya di Pondok Indah sedang sejauh-jauhnya aku main kan cuma di Blok M). Ia memasukkan mobil ke garasi sebuah rumah kecil di pemukiman yang padat dan jalannya ampun deh jeleknyaa..

Lalu Cie Lena menyilakan aku keluar. Sempat kulihat ia tersenyum pada seorang Empeh-empeh yang lewat, Kudengar ia membahasakan aku ini adik sepupu yang hari ini dititip karena orang tuanya sedang pergi. Wah, kalau sampe sebegitu-begitunya, ini pasti beneran tempat tinggalnya.. Lalu aku mengikutinya masuk ke dalam rumah itu. (Hihihi aku perhatikan ia mengambil anak kunci pintu depan dari balik keset.. Kalo aku maling, habis sudah isi rumah ini..)

"Ini kontrakan Ciecie.." katanya sambil menunjuk ke ruangan dalam, "Ciecie tinggal berempat di sini."
"Yang lainnya kalo ngga kerja ya kuliah.." katanya saat aku bertanya mana yang lain.

Ia membuka kamarnya dan menyilakan aku masuk sementara ia ke ruangan lain -mungkin mengambil minuman. Aku perhatikan kamarnya sangat rapi, mirip seperti kamarnya Ci Sian. Bedanya hanya buku-buku kuliahannya sangat sedikit sedang di kamarnya Ci Sian kemanapun kita memandang isinya buku.. Ah, Ciecie ini memang butuh bantuan banyak.

Lalu Cie Lena datang membawa minuman. Tersenyum ramah. Meletakkan gelas di meja belajarnya lalu mengunci pintu dan berdiri bersandar di pintu sambil memandangiku. Aku duduk di kursi belajarnya, setengah gugup. Habis ini, aku akan melihat cewek bugil asli-aslian di depanku.. Nampaknya dia sangat mengerti kegugupanku karena ia lalu berjongkok di sampingku dan memelukku erat-erat. Menciumku pelan. Lalu berkata, "Udah siap liat bodi Ciecie?", Aku mengangguk perlahan. Dia tersenyum dan berdiri sambil membelai pipiku. Ia mulai berdiri menjaga sedikit jarak agar aku bisa melihat semua dengan jelas.

Sebetulnya kalo dipikir-pikir saat itu ia melakukannya dengan cepat, kok.. Tapi dalam tegangku, semua gerakannya jadi slow motion. Ia mulai dengan membuka kaus ketat tipisnya. Melemparnya ke tempat tidur. Tersenyum lebar, ia menepuk perutnya yang putih kecoklatan itu sambil membuat gerakan menciumku.. Lalu ia menarik sesuatu di belakang rok mininya sehingga terjatuh ia menutupi jemari-jemari kakinya menampakkan celana dalam coklat muda yang tadi ia katakan..

Sampai di sini, aku tidak kuat duduk.. batang kontolku menegang dan sakit kalo aku tetap duduk. Ia malah mendekat dan memelukku. Mmmhh.. meski jadi sedikit sesak napas, tapi aku sangat senang.. wajahku kini terbenam di antara belahan buah dadanya.. sedang perutnya menempel pada dadaku.. Oh, aku tentu saja balas memeluknya.. dan terpeluk olehku pinggul dan pantatnya yang sekel itu.. Dan saat terpegang olehku celana dalamnya, spontan aku masukkan jari-jariku ke dalamnya, membuatnya menjerit kecil.. "Aih.. ngga sabaran banget sih Ko kecilku ini.."

Spontan ia melucuti celana dalamnya lalu mengangkat kaki kirinya memeluk pantatku sehingga rambut tipis jembutnya menggesek-gesek perutku.. Aduh ciecie ini.. aku kan pengin liat.. Tapi ia menciumku di pipi dan membimbingku ke cermin yang tertempel di lemarinya memperlihatkan seluruh badan telanjangnya kecuali di sekitar tetek itu.. Aku mengerti. Aku ke belakangnya dan membuka kaitan BH nya sehingga nampak juga akhirnya puncak gunung yang coklat muda indah itu.. membuatku segera menarik tubuhnya menghadapku.. dan mulai meremasinya buah dada itu.. Ia sedikit melenguh dan terduduk di kursi.. Menyandarkan punggungnya di sandaran kursi sehingga dadanya membusung sedang posisi pinggul dan otomatis memeknya tersodor bagai ingin disajikan.. Aku ciumi teteknya itu lalu aku hisap kuat-kuat membuatnya menggelinjang sampai akhirnya dengan satu sentakan ia mendorongku jatuh ke tempat tidurrnya..
Ia bangkit berdiri setengah membuka pahanya sambil bertolak pinggang menonjolkan dadanya yang masih mancung dan ranum itu..

Aduh aku ngga kuat lagi. Aku buka celana ku sehingga batang kontolku mencuat keluar dengan bebas mengambil posisi tempur.. kucopot juga bajuku sehingga tinggal singletku. Sementara itu ia hanya tersenyum saja.
Lalu ia memegang kontolku, yang segera saja semakin tegang dan membesar..
"Aduh si Ko kecil ini.." katanya sambil menggeleng-gelengkan kepala, "Udah kerangsang, ya?"
"Iya, cie.. "
Dia cuma tercekikik, dengan genggamannya menahan kulit kulup ku agar tidak menutupi kepala kontolku, ia menotol-notolkan telunjuknya pada kepala kontolku.. dan setiap kali jarinya menyentuh kulit kepala kontolku, setiap kali itu aku merasa tersetrum oleh rasa geli-geli yang aneh..
"Hhh..," aku sampai mendesah kenikmatan, "Cie, 'maen' yuk?"
Dia menatapku geli..
"Maen petak umpet?"
Aku menggeleng tak sabar, "Bukaan. Kayak yang di film-film.."
"Film apa? Donald Duck?"
"Be Ef, Cie.. Ngentot.." akhirnya keluar juga kata itu dari mulutku..
Tapi dia malah menowel hidungku, "Anak bandel, ya? Kecil-kecil udah nonton BF. Kamu udah pernah 'maen', ya? sama siapa?"
Aku menggeleng pelan, "Nonton doang. Pengen sama Ciecie.."
"Tapi ciecie mana puas 'maen' sama kamu. Kamu kan masih anak kecil.."
Lalu dia menunjuk burung-ku
"Punya kamu itu kekecilan. Lagian kamu orang kan belum pernah 'maen', belon tau harus ngapain.."
Adduuh.. aku udah kepengen banget niih..
"Cie Len.. boleh dong, ya? aku kasi Ciecie tiga ratus deh.." aku merengek..
Dia malah tertawa, "Kamu ini mesti anak orang super kaya.. buang duit kayak buang sampah.."
Adduuh.. tolong Cie.. cepet dong..
Dia lalu mencium bibirku sehingga batang kontolku tak urung menyentuh daerah sekitar pangkal pahanya..
"Duit segitu itu separuh uang kuliah Ciecie satu semester, tau nggak?!"
Adduuh Ciecie ini gimana sii.. aku udah ngga tahan nii..
"Cie Len.. ayo dong Cie.."
Cie Lena menghela napas panjang, lalu menatapku sambil menggigit-gigit bibirnya sebelum akhirnya berkata "Sebetulnya Ciecie ngga pengen begini. Tadinya niat Ciecie sama kamu tuh cuma telanjang aja.."
"Tapi Ciecie memang butuh uangnya.."
Lalu ia menghela napas panjang lagi, "Tapi kamu ini masih anak kecil. Ciecie ngga mau ngerusak kamu.."

Aku menatapnya protes. Ia pasti melihat tatapan protesku, tapi ia nampak berpikir keras. Tapi akhirnya ia menggelengkan kepala lalu mencium bibirku. Lalu tubuh telanjangnya itu menelungkup menindih tubuh telanjangku..Ia menciumiku sementara tangan kirinya menyentuh-sentuh kepala kontolku dan ampun deh rasanya luar biasa.. (ternyata butuh beberapa tahun kemudian baru aku sadar kalo orang belum pernah kepegang cewek, cukup disentuh kepala kontolnya rasanya sudah selangit..)

Aku meronta, menggelinjang keenakan.. sekaligus tidak puas.. aku ingin ngentot! Dan akhirmya ia memenuhi keinginanku.. ia menjejakkan kaki kirinya di atas ranjang sedang kaki kanannya di lantai, dalam posisi setengah berlutut sehingga kepala kontolku (yang mungkin masi terlalu kecil buat dia karena usiaku toh juga masi kecil) sedikit melesak di antara dua bukit berhutan jarang itu.. Lalu.. ia menekan pantatnya sedang ia membusungkan dadanya dan mendongak sehingga pandanganku hanya berisi payudara dan puting susu kecoklatannya itu.. plus bonus ujung hidungnya..

Slepp.. nampaknya kepala kontolku sudah mulai melesak masuk.. Ia lalu mengambil posisi berlutut, kedua lututnya tertekuk di atas kasur dan pinggulnya menindihku.. Lalu ia sekali lagi mendesakkan pinggulnya.. Bless.. akhirnya masuk juga.. Aku terpesona merasakan gesekan kontolku dengan dinding dalam memeknya.. Ia tersenyum lagi. Lalu mulai menggoyang-goyangkan pantatnya.. membuat sensasi luar biasa pada setiap gerakannya yang membuat kontolku bergesekan dengan dinding memeknya.. Ohh.. hh.. Badanku rasanya pelan-pelan terbakar oleh perasaan geli-geli yang menjalar yang dingin..

Lalu ia semakin mempercepat gerakannya. Membuat jalaran geli tadi semakin melebar ke seluruh permukaan kulit tubuhku dan pada saat nampaknya tak tertahankan lagi.. tiba-tiba..
Srr.. srr.. srr.. kurasakan aku 'kencing' dan perasaan geli itu mulai menguap meninggalkan bekas bergetar dingin pada sekujur badanku.. Gerakan Cie Lena berhenti.. Kontolku sudah terlalu lemas sehingga tidak dapat bertahan lebih lama dalam liang memeknya.. Cie Lena memelukku sekali lagi.. Menciumku..

"Gimana, Bee..? Kesampaian, ya..?" katanya dengan senyum menggoda..
"Enak kan 'maen' sama Ciecie..?"
Aku.. aku tidak dapat menjawab. Aku menutup mataku saja sambil tersenyum lebar..
Dan aku pikir dia puas dengan jawaban itu. Soalnya dia mulai menciumku dan memainkan burungku sekali lagi dengan jemari lentiknya..

Ah.. Cie Lena.

Sekarang ini, 13 tahun kemudian, dia masih belum menikah dan kini bekerja sebagai karyawanku di sebuah kawasan perkantoran di xx.. Ya tentu saja kami masih sering melakukannya. Tapi mungkin tidak terlalu sering karena kami masing-masing sudah punya pacar. Hanya saja, ketika kenangan atau gairah itu datang, sedang pacarku tidak ada di tempat, aku tahu ke mana aku bisa menyalurkan hasratku..

Ah, masa lalu memang indah..





cerita ngentot,certita sex
cerita ngentot,certita sex
cerita ngentot,certita sex


Ngentot Karena Ekstasi

Namaku Koke.
Aku sebenarnya kuliah di Universitas Tarumanegara, Jakarta.
Kehidupanku amatlah nikmat dan glamour. Uang, mobil mewah, handphone semuanya disediakan.
Aku juga kos di tempat yang megah dengan kamar ber-AC. Tapi kehidupan Jakarta yang penuh godaan membuatku terjerumus. Semua hal yang buruk pernah kujalani di Jakarta. Dan yang paling parah aku sering berjudi. Karena hobi berjudi itulah, aku kena batunya. Waktu itu pertandingannya Chelsea vs Tromso, aku pasang pertama 10juta, setengah permainan aku pasang lagi 10 juta. Seperti yang kalian tahu Chelsea membantai Tromso 7-1 dan aku kalah sekitar 30 jutaan. Dengan perasaan takut aku segera telepon orang tuaku. Seketika itu juga mereka mengirimkan uang dan segera menarikku dengan paksa dari Jakarta kembali ke Solo.

Di Solo aku menjadi pengangguran. Tiap hari dimarahi oleh orang tuaku. Dalam hatiku, aku ingin sekali berubah dan melanjutkan studiku kembali. Kusampaikan keinginanku dan kedua orang tuaku menerimanya. Mereka mengusulkan agar aku kuliah saja di UKSW Salatiga karena dekat dengan Solo. Akhirnya aku kuliah di Salatiga, kota kecil yang sepi. Kehidupan Jakarta yang ramai dan ceria berubah menjadi suram dan sepi. Tapi apa mau dikata, aku harus mengembalikan kepercayaan orang tuaku. Aku mengambil jurusan Pariwisata atau setara dengan D2. Aku disana mempunyai pacar sebut saja namanya Mila, anak Semarang.
Kadang-kadang rasa sepi menghantui diriku. Kehidupan kota metropolitan yang serba nikmat membuatku ketagihan. Kadang aku ke diskotik di kota Solo, Legend atau Nirwana dan tripping di sana. Mila tentu saja tidak mengetahuinya karena aku selalu pergi setelah kosnya tutup. Pada hari Selasa, aku pergi ke Solo setelah kos Mila tutup. Sudah lama aku tidak trip. Kulihat banyak juga anak Salatiga yang juga tripping di sana. Aku juga " neken", obatnya waktu itu Pink Love kalau tidak salah. Memang benar-benar nikmat obat itu. Nah, pada saat aku asyik trip, ada seorang cewek di sebelahku yang juga triping. Usianya sekitar 23- an, tubuhnya seksi luar biasa. Kaos yang dipakainya tidak dapat menyembunyikan kebesaran buah dadanya ditambah lagi pantat yang seksi, yang terus bergoyang sensual mengikuti irama house music. Aku cuek saja, mencoba menikmati obatku. Tiba-tiba saja dia terhuyung-huyung dan hampir menjatuhi aku. Aku segera menangkapnya dan langsung BT. Sialan! Kulihat raut wajahnya pucat pasi dan nafasnya memburu. Nih, cewek pasti over dosis! Kulihat di mejanya ada dua gelas Long Island. Kulihat keadaannya agak gawat. Kupapah dia keluar diskotik dan kumasukkan ke mobilku. Aku segera melarikan mobilku ke Rumah Sakit. "Eh... jangan ke Rumah Sakit... jangan!" begitu rintihnya ketika dia mengetahui bahwa aku menuju ke RS. "Terus ke mana, kamu kan OD! Minum berapa sih?" "Pertamanya cuma 2 tapi disodok lagi 1 sama temenku terus ditambahin Long Island." Aku berpikir nih cewek pasti OD sekaligus mabuk. Setelah kubelikan susu, kami akhirnya malah jalan-jalan keliling Solo. Kami berkenalan, dia bernama Sandra. "Kamu sering trip, San?" terus dia jawab "Baru tiga kali." Aku heran banget baru tiga kali dosisnya sudah segitu banyak. "Kamu kuliah di Salatiga kan?" tanyanya. Aku jawab, " Dari mana kamu tahu?" Dia jawab, "Siapa sih mahasiswa UKSW yang bawa..." katanya sambil menyebut merek mobilku. Aku hanya tersenyum, memang di Salatiga cuma aku yang bawa jeep berkelas di kota sekecil ini. Rada kampungan!
Dia sebenarnya datang bersama teman- temannya tapi entah kenapa teman- temannya malah pergi ke Balekambang. Dia mengajakku langsung ke Salatiga sekalian pulang. Tak lama kemudian aku sampai ke Salatiga. Dia hendak kuantar ke kosnya di Jalan Diponegoro. Tapi dia menolak dengan alasan dia "on" lagi. Memang kurasakan tangannya kembali dingin dan tubuhnya bergetar. Aduh... payah, nih! Dengan terpaksa aku ke kosku. Kasihan kalau dia masih "on". Waktu itu masih jam 02.30. Begitu masuk ke kontrakanku, giginya sudah gemeretak tanda sudah tinggi. Segera saja kuputarkan house music di kamarku. Dia menggerakkan kembali tubuhnya dengan gerakan yang sensual dan merangsang birahi. Tapi aku cuek saja. Mau ereksi saja susah! Aku juga merasa "on" lagi. Sambil bersandar di sofa, aku mulai menggelengkan kepala.
Hentakan house music semakin meninggi, dia semakin gencar menggerakkan tubuhnya. Buah dadanya yang menggunung bergoyang seperti kesetanan. Kaos ketatnya sudah basah oleh keringat. Tiba-tiba saja Sandra menjatuhkan tubuhnya serta merangkul tubuhku dan kurasakan buah dadanya yang montok itu menggencet dadaku. Aduh... empuknya! lalu kubiarkankan saja, sama-sama nikmat sih! Dan seketika juga kurasakan nafas Sandra memburu dan mempererat rangkulannya. Bagian bawah tubuhnya digeser- geserkan dengan nafsu. Sekali lagi aduh... enaknya!
Tak disangka-sangka dia mencium bibirku dengan nafsu, aku sempat gelagapan. Tapi segera kubalas dengan penuh nafsu pula. Entah kenapa, padahal aku sedang tidak mood! Tangannya mulai meraba kemaluanku dan mulai diremas-remasnya. Aku pun mulai membalas meremas- remas buah dadanya yang besar itu. Aku benar-benar merasakan kenikmatan surga dunia. Tapi anehnya kemaluanku tetap saja tidak bereaksi. Sandra melepaskan rangkulannya dan berlutut sambil tangannya membuka paksa celana pendekku. Dikocoknya kemaluanku dengan bernafsu. Aku merasa geli sebab kemaluanku tidak berdiri. Aku bukan pertama kali ini senggama tapi baru kali ini kurasakan hal yang aneh seperti ini.
Dengan penuh nafsu, dihisapnya kemaluanku dari batang kepala sampai batangnya. Aku merasa terkejut dan merasakan kenikmatan yang luar biasa. Tiba-tiba saja aku merasa detak jantungku semakin menggebu, entah kenapa. Kulihat saja kepala Sandra maju mundur menghisap kemaluanku sambil kubelai-belai rambutnya yang disemir pirang. Usahanya mulai menampakkan sedikit hasil. Kemaluanku mulai bangkit secara perlahan. Dia melepaskan kaosnya dan tampaklah buah dadanya yang terbungkus BH putih. Kemudian dia melepas BH-nya dan mataku langsung berbinar melihat pemandangan seindah itu. Buah dada yang montok menggunung dengan bentuk yang bagus dan puting susu yang kecil berwarna kemerah- merahan.
Kepala kemaluanku diusap-usapkan ke putingnya sambil terus dikocok-kocok batangnya. Aduh... aku mulai merasakan kemaluanku betul- betul tegang. Aku merasakan detak jantungku semakin menggila, mungkin darah dari jantungku terpompa ke kemaluanku. Dadaku rasanya kosong dan deg-degan. Sandra tersenyum kegirangan karena usahanya berhasil.
Dia bangkit dan melepas celana panjangnya. Aku menghempaskan tubuhku di kasur dan kulihat kemaluanku mulai lemas lagi. Sandra melepas juga celana dalam putihnya dan kulihat bulu kemaluannya yang menghiasi lubang vaginanya tidak begitu banyak dan jarang-jarang. Pantatnya yang putih dan seksi serta berisi terlihat jelas. Tubuhnya putih bersih dan seksi bahkan kubilang terlalu seksi karena pantat dan buah dadanya besar sementara pinggangnya kecil. Karena melihat pemandangan seperti itu, kemaluanku bangkit kembali. Sambil tetap duduk di sofa, digenggamnya kemaluanku dan digesek-gesekkan di pintu masuk lubangnya. Aku merasakan kenikmatan yang luar biasa. Kemudian dimasukkannya kepala kemaluanku secara perlahan kevaginanya. Aku hanya merem melek keenakan. Sandra terus menaik- turunkan tubuhnya sementara house music terus mengalun. Buah dadanya bergoyang mengikuti gerakan naik-turun tubuhnya. Kutarik punggungnya hingga buah dadanya tepat berada di depan mulutku dan langsung kulumat- lumat dan kuhisap-hisap. Sandra mendesah- desah keenakan. Dia terus menduduki kemaluanku dan menggoyang-goyangkannya.
Setelah sekian lama dengan posisi naik kuda seperti itu, aku merubah posisiku di atas dan dia di bawah. Langsung kugojlok kemaluanku sambil kupeluk dia erat- erat. Kuciumi sekujur wajahnya, telinganya, hidungnya. Dadanya tergencet bulat dan hangat di dadaku. Kupacu terus pantatku sampai aku merasa pegal semua. Keringatku terus mengucur dari seluruh pori-poriku tapi aku tak peduli. Sandra hanya meringis-ringis keenakan. Kami sudah tidak mempedulikan keadaan sekitar. Suara dengusan dan rintihan bercampur menjadi satu.
Aku terus berjuang agar aku bisa mencapai puncak. Sudah tidak terhitung berapa kali batang kemaluanku mengobel lubang vaginanya. Aku terus mengocok vaginanya sambil memegang kedua belah kakinya. Aku harus tetap berkonsentrasi dengan memandang wajahnya sebab bila aku menutup mataku sebentar saja maka segera kurasakan batang kemaluanku mengecil. Kadang-kadang dengan posisi seperti itu, aku memegangi sepasang buah dadanya yang berayun. Sandra memintaku untuk menusuknya dari belakang, aku pun oke-oke saja. Keinginanku untuk mencapai kenikmatan sudah menggebu-gebu. Langsung kumasukkan saja kemaluanku dari belakang dan kumaju-mundurkan dengan agak kasar. Terus kukeluar- masukkan sambil kupegangi pinggulnya. Dia hanya merintih dan mendesah saja sambil memegangi kedua buah dadanya. Aku tanya kenapa dan dia jawab "Biar nggak kendor..." Aku gemas mendengar jawabannya itu. Dari belakang kupegangi buah dadanya yang bergoyang mengikuti gerakan pantatku. Saat itu tidak lagi kurasakan kenikmatan bersenggama tapi yang ada adalah keinginan untuk mencapai klimaks.
Setelah beberapa saat, kami berganti posisi lagi. Kami bersenggama dengan posisi miring. Agak susah memang karena ukuran kemaluanku tidak sepanjang milik orang-orang bule. Satu kaki kuangkat dan begitu celah kewanitaannya merekah langsung kusumbat dengan kejantananku. Aku mencium bibirnya dengan nafsu sambil terus kugoyangkan pantatku. Sampai suatu saat aku benar-benar kelelahan dan kuhentikan gerakanku. Sandra yang menyadari hal itu dan merasakan kemaluanku mulai mengecil langsung mencabutnya dan dikocoknya. "Jangan lemas dulu... dong! Aduh...!" Dia membimbingku duduk dan dia memaksa kemaluanku untuk masuk ke vaginanya. Sambil duduk, dia yang menaik-turunkan pantatnya. Dia memeluk tubuhku erat-erat sehingga wajahku tergencet buah dadanya. Aku merasa kemaluanku bangkit kembali bahkan lebih perkasa. Kukonsentrasikan perhatianku.
Terpaksa cerita ini kusingkat sebab kami bertempur seperti kesetanan dan kalau diceritakan akan panjang sekali. Fight to the death, man! Suatu saat aku merasakan bendunganku hampir jebol, "San... San... aku mau keluar nih.. San... Sandra...!" Begitu dia mendengar begitu, dia langsung menggoyang-goyangkan pinggulnya " Ya... ya... keluarin saja... aku juga sudah capek!" Dan jruooot... jrooot... Aku bergetar hebat ketika air maniku keluar. Sukmaku melayang ke langit yang paling tinggi. Nyawaku seakan-akan dicabut dari tempatnya. Benar-benar dapat dikatakan banjir karena banyak sekali. Mungkin ada 30 sendok makan. Air maniku seperti ceret yang dituang ke cangkir, gluk... gluk... dan seperti berebutan keluar. Semua bagian tubuhku lemas dan seperti mati rasa. Benar-benar nikmat, Sandra hanya memejamkan mata ketika air maniku membanjiri vaginanya. Kami berdua segera berbaring kelelahan.
Benar-benar suatu pengalaman yang menyakitkan. Kulihat jamku sudah menunjukkan 5.30! Berarti kami bersetubuh hampir 3 jam. Setelah pengaruh ecstasy mulai terasa habis, aku merasa kemaluanku perih dan sakit semua. Kulihat batang dan kepalanya lecet- lecet dan luka. Dan kulihat juga vagina Sandra memerah dan seperti terbakar. Ternyata kami berdua terpengaruh ecstasy jenis yang sama, yang memang mencegah ereksi tapi begitu sekali ereksi wah bisa tahan berjam- jam. Apalagi kata teman- teman, Pink Love memang pada akhirnya menjurus ke arah seks. Sandra ketika kutanya bahkan mengaku orgasme sampai 34 kali dan itu bisa diaturnya. Ejekulasi kalau lagi "on" amat berbeda rasanya. Enak dan nikmat dan lain sebagainya. Malam itu benar- benar pengalaman yang tak terlupakan. Aku hampir seminggu sekali pasti trip dengan Sandra dan setelah pulang langsung bermain seks sampai pagi.
Dan semua itu berakibat fatal karena pada saat kami pertama kali bersetubuh spermaku telanjur masuk sehingga pada akhirnya Sandra hamil dan aku akhirnya mengawininya. Kuliahku berhenti di tengah jalan padahal hanya kurang 1 semester. Papa dan mamaku sebenarnya tidak setuju kalau aku mengawini Sandra tapi apa mau dikata. Mereka mengatakan kalau Sandra wanita murahan, pelacur, perek dan lain sebagainya. Tapi aku yakin dia tidak seperti itu. Dia memang pernah melakukan hubungan seks sebelumnya dengan pacar lamanya. Tapi yang paling penting dia mengandung bayiku! Semua ini gara-gara ecstasy, pil kecil seharga Rp 35.000, yang nikmat. Pil kecil itu pula yang membuyarkan semua cita-citaku dan memutuskan hubunganku dengan Mila.
Sungguh hancur hati Mila ketika mendengar aku menghamili Sandra. Sampai sekarang Mila tidak mau bicara atau bertemu denganku. Aku merasa sedih sekali kalau mengingat masa lalu yang indah dengannya. Saat kami berdua jalan-jalan di sepanjang jalan Diponegoro atau surfing Internet bersama-sama. Ah... nggak mungkin hal tersebut terulang lagi. Biarlah! Semuanya telah terjadi, sekarang kami hidup dengan tenang di Solo dan aku meneruskan usaha ayahku di bidang angkutan.

Rabu, 25 Juni 2014

Buruh pelabuhan Ngentot dengan Model

Didikan dan dorongan dari orang tuaku
mampu menghantarkanku menjadi orang yang memiliki status sosial dan ekonomi lumayan dibandingkan keadaan keluargaku sebelumnya ketika aku masih kecil.
Maklum kami berasal dari keluarga yang cukup bersahaja.

Aku selalu disuruh belajar dan belajar. Kata mereka, bila ingin memperbaiki tingkat kehidupan maka kita harus giat belajar sehingga kelak setelah memiliki ilmu yang tinggi dan lulus dari perguruan tinggi, rejeki akan lebih mudah didapat. Orang tuaku ada benarnya meskipun sekarang banyak sekali sarjana menganggur, kalah sama yang berani mengambil kesempatan apa saja biarpun tidak tinggi sekolahnya. Namun sesungguhnya ada kekurangannya juga. Setelah menyandang gelar S1 di salah bidang keteknikan aku beruntung dengan amat mudahnya mendapatkan pekerjaan yang bergengsi.

Namun seperti yang telah kusebutkan tadi, aku begitu terobsesi dengan isi otak belaka, namun tidak dalam hal kepandaian bergaul. Lebih parah lagi dalam hal bergaul dengan cewek. Asli seperti layaknya murid TK bila dibandingkan dengan para pria dewasa lainnya. Di samping memiliki masalah dalam psikologi, kelemahan lain yang juga kritis yang kuidap adalah masalah fisiologi.

Aku lemah. Aku terlalu acuh dan menganggap remeh masalah olah tubuh. Dampaknya adalah aku tidak memiliki kekuatan fisik yang prima yang seharusnya dimiliki oleh seorang pria. Tubuhku memang tidak kerempeng, namun kurang berotot dan bertenaga, dan celakanya lagi untuk urusan seks aku tidak terlalu 'jantan'. Bila melihat wanita cantik aku hanya sekadar ngiler saja tanpa berani bertindak lebih jauh, takut mengecewakan. Akhirnya aku hanya mampu dari ke hari membayangkan mereka saja. Selebihnya onani, itupun paling seminggu sekali, bila kantong pejuhku sudah kurasa penuh.

Tapi biarlah, tidak semua yang kita inginkan di dunia bisa kita dapatkan, Tuhan telah sangat adil membagi karunia-Nya. Ada yang diberi kelebihan rejeki, ada yang diberi kelebihan penampilan fisik, dan ada yang diberi kelebihan kekuatan fisik.

Sesungguhnya semua itu tergantung juga dari cita-cita, tempaan hidup, ataupun keadaan yang kadang tak dapat dihindari atau dikehendaki sebenarnya. Mungkin semua orang ingin kaya, namun berhubung satu dan lain hal mereka tidak beruntung mendapatkannya. Akan tetapi sebenarnya bila mereka pasrah dan mampu berpikir positif untuk menggali kelebihan-kelebihan dari kekurangan-kekurangannya (seperti setali dua uang, di satu sisi ada plus pasti di sisi lain ada minusnya), mereka akan menemukan keunggulan tersendiri yang mungkin tidak dimiliki oleh orang yang mereka anggap 'beruntung'.

Begitulah kehidupan, kebanyakan orang hanya mampu mendongak ke atas, selalu berkeluh kesah memprihatini diri sendiri atas kelebihan orang lain.

Sementara aku saat ini memiliki pandangan lain, aku suka iri melihat para pria perkasa yang akibat tempaan hidupnya yang berat justru membuat mereka memiliki kekuatan fisik yang prima, sekaligus memiliki pesona seksual yang luar biasa bagi lawan jenis.

Aku merasa bahwa kelebihan materiku paling hanya dapat menyilaukan mata wanita, tapi tidak benar-benar mampu membuat mereka bertekuk lutut. Mereka mudah dekat denganku karena statusku, namun aku merasa mereka tidak benar-benar di 'dekatku' setelah merasakan 'keintiman' denganku.

Sehingga pada suatu ketika aku menemukan metode yang kuanggap dapat memuaskan hasratku, meskipun tidak secara langsung namun ternyata luar biasa kenikmatan yang dapat kuraih, yaitu memuaskan diri dengan meminjam kemampuan orang lain.

Inilah sebagian kisah-kisahku dalam mendapatkan kepuasan seksual tetapi tidak secara langsung melakukannya sendiri, alias kepuasan sekunder.


Menyutradari

Suatu pagi di hari Sabtu ketika sedang jalan-jalan cari angin untuk menumpas kejenuhan dan kepenatan kerja beberapa bulan ini aku mencoba rute ke arah pelabuhan yang selama ini belum pernah kucoba. Memasuki tol dalam kota aku menuju arah pelabuhan Tanjung Priok. Rencanaku adalah melihat-lihat suasana pelabuhan. Mengamati kapal berlabuh atau berlayar, kesibukan bongkar muat, atau hal-hal lainnya yang benar-benar baru.

Kuparkir mobil di areal parkir lalu aku mendekati anjungan sambil bersedeku di pagar. Hawa semilir pelabuhan masih segar di pagi hari. Kesibukan pelabuhan sudah mulai.

Pertama kuamati kapal besar yang berlabuh. Nampaknya kapal barang, karena lebih banyak barang yang turun ketimbang manusia. Tiba-tiba terlintas kilat sesuatu di kepalaku. Aha, kenapa tidak kucoba? Lalu mulai kuteliti satu per satu para kuli pelabuhan. Ada beberapa yang tua, namun kebanyakan masih muda. Badan mereka rata-rata kekar berotot. Rata-rata berkulit gelap mungkin karena tertempa teriknya matahari pelabuhan selama bertahun-tahun. Tapi bagaimana caranya? Aku sedang mendebat diriku sendiri. Ah, macam mana mereka bisa menolak penawaranku.

Lalu aku mencoba menyeleksi secara diam-diam, siapa diantara mereka yang hendak kupilih sebagai calonnya. Yang tua? Sebenarnya nggak masalah, toh mereka nampaknya juga masih jantan. Yang muda, tentu saja memiliki peluang keberhasilan yang lebih besar untuk rencanaku nanti.

Akhirnya kupilihlah yang agak tua, sekitar 50 tahunan, dengan pertimbangan yang tua lebih berpengalaman dan lebih mampu mengendalikan permainan. Di samping itu itung-itung membantunya secara finansial, kasihan tua-tua masih banting tulang menjadi kuli. Nah sekarang tahapan selanjutnya adalah melobi dan merayu si Bapak agar bersedia menjadi aktor dalam permainan erotis ini.

"Pagi?", sapaku mencoba ramah.
"Pagi juga", bapak ini agak terkejut dan grogi ketika disapa seorang perlente seperti diriku ini (hehe memuji diri sendiri) hingga menimbulkan sejuta pertanyaan baginya, tiba-tiba ada orang asing yang menyapanya.
"Boleh ngomong sebentar, 5 menit aja Pak".
"O.. Oh ya boleh, boleh, ada apa Den?".
"Panggil aja Prakosa, jangan pakai Dan-Den segala", gurauku. Mencoba mencairkan ketegangan.
"Gini Pak, saya mau minta tolong tapi saya juga khawatir akan Bapak tolak mentah-mentah."

Bapak ini menunggu kalimatku selanjutnya, lalu nggak tahan akhirnya bertanya.

"Pertolongan apa, Nak Prakosa?".
"Istri Bapak ada di mana? Di kampung atau dibawa ke Jakarta sini?".
"Ah ya ditinggal di kampung saja Pak, susah kalau dibawa ke sini. Berat hidup di Jakarta Pak."

Oho, ada peluang nih.

"Lah berapa lama Bapak tidak ketemu istri?", pancingku.
"Sebulan, kadang lebih. Emang kenapa ya Nak?".
"Nggak kok, apakah Bapak tidak terlalu lama berpisah dari istri", kukupas halus naluri dasar seorang manusia, khususnya pria.
"Heh heh.. Bapak tahulah maksud Nak Prakosa. Habis gimana yah, memang masalah makan jadi nomor satu bagi saya. Jadi harus berjauh-jauhan dari istri agar ada yang bisa dimakan. Daripada kumpul, kami mau makan apa?".
"Okelah gini Pak, singkat kata aja ya, saya mau membantu Bapak untuk menyalurkan kekangenan Bapak kepada istri atau wanita tepatnya."
"Waduh, Bapak nggak punya duit lebih untuk begitu-begitu Nak."
"Oh tidak, tidak, Bapak tidak perlu mengeluarkan biaya. Nanti biarlah saya yang membiayai semua ini bahkan ada tips buat Bapak. Jadi tinggal Bapak bilang saja bersedia nanti sisanya biar saya yang urus. Gimana, mau nggak Pak?"

Hampir aku kejedot rantai kapal yang besar-besar itu ketika si bapak akhirnya meng-aprove proposalku. Laki-laki mah di mana-mana sebenarnya sama saja, sulit menolak penawaran menggiurkan seperti ini. Aku sudah bergairah duluan ketika membayangkan bakal ada adegan panas antara 'Beauty and the beast'. Permainan kontras yang mampu melecut gairahku.

Kuputuskan segera mengontak sang pemeran wanita pagi-pagi supaya tidak keburu dibooking orang. Begitu mendapat konfirmasi atas kesediaannya untuk menyediakan waktunya malam ini, maka bergegas pula kukontak sebuah hotel kelas sedang. Yang penting tempatnya agak terlindung dari keramaian. Si bapak akan kujemput duluan sore-sore dari tempat kerjanya sesuai janjiku untuk mengurus semuanya. Sementara pemeran wanita akan datang sendiri tanpa perlu dijemput.

Aku biasa membeli tabloid-tabloid panas yang banyak tersedia di ibukota. Aku suka memelihara gairahku akan wanita dengan berlangganan membeli filem bokep, tabloid atau majalah panas yang berisi info mengenai esek-esek di ibukota. Dengan seringnya berlangganan membeli tabloid semacam itu, aku jadi banyak mendapatkan informasi mengenai agen-agen yang menyediakan wanita untuk melayani syahwat para lelaki/wanita.

Jam 20.00 aku dan si bapak telah berada di dalam kamar hotel setelah makan malam, kami mengobrol berbagai hal sambil menunggu kedatangan wanita cantik pesananku. Tentu saja tarif sekelas dia lumayan mahal, di atas rata-rata tarif wanita panggilan lainnya. Tapi biarlah, fantasi kadang meminta ongkos besar.

Tit.. tit.., HP-ku berbunyi, kuangkat..

"Yes dear, dah nyampe?".
"Udah di bawah Mas, di kamar berapa?", terdengar suara riang. Professional sekali. Semua dilayani dengan riang asal sesuai tarif.
"315, ke kiri dari lift ya."
"OK Mas.."

Kulihat si bapak agak grogi juga, kutenangkan bahwa semua ini dilandasi alasan komersial belaka. Jadi tidak perlu takut akan ditolak. Siapa tahu malah si wanita setelah malam ini akan menjadi ketagihan kataku. Kan malah lebih enak nanti-nanti dapet layanan rutin gratisan dari si Mbak, gurauku. Banyak kok wanita yang menginginkan seks sejati, yang benar-benar mampu membuat si wanita terkapar dalam orgasme sejati. Dan itu tidak ada kaitannya dengan siapa bapak, tetapi apa yang bapak dapat lakukan untuk memuaskan si wanita. Si bapak mulai kendor ketegangannya.


Ting.. tong.., Kubuka pintu kamar.

"Hai", salamnya.
"Hai juga, sendiri apa dianter?", kutanya basa basi.
"Dianter demit apa, hehehe", cair sekali suasananya.

Semoga semuanya berjalan lancar. Ini semua demi kepentinganku, menyalurkan hasrat seksualku yang lagi menuntut.

Kuamati dandanannya cukup berkelas, bahkan tidak nampak norak bak pelacur kelas jalanan, maklum eks model. Memang yang kupilih adalah eks model untuk memastikan kualitas kecantikannya. Sebenarnya banyak juga yang cantik-cantik yang bukan model, tetapi daripada seperti memilih kucing dalam karung mendingan cari kepastian aja deh. Kulit putih mulus, tinggi langsing dengan dada menjulang, hidung mancung dan wajah oval. Klop sebagai the beauty.

Dia sempat agak kaget ketika ada orang lain di situ, Bapak itu, yang duduk di kursi pojok ruangan. Bapak itu anteng saja dan tidak menatap sama sekali sang aktris.

"Della, ehm sori ya kita perlu bicara sebentar", aku mulai menceritakan semuanya sejak masalahku sampai hasratku yang dapat dipenuhi melalui cara ini.
"Tenang aja Mas, no problem, it's all about money, Dear. But it's better when he could make me satisfied. Who knows."

Aku lega sekali, malah dia mulai menatap bapak itu dengan tatapan tajam dan mengundang. Kudekati si bapak dan memberitahukan bahwa wanitanya oke-oke saja malah penasaran ingin menikmati tubuhnya. Si Bapak mulai bangkit dan berani menatap Si Wanita.

Aku duduk di pojok dan mempersilakan keduanya melakukan adegan sesuai dengan inovasi mereka sendiri. Keduanya duduk di tepian ranjang. Sengaja tadi si Bapak tidak kusuruh mandi dulu, badannya masih berkilau-kilau berkeringat meskipun sudah agak lama terkena AC kamar hotel. Biarlah mereka yang memutuskan untuk mandi atau tidak.

Si Bapak masih canggung, Si Wanita yang membimbing. Dipegangnya tangan Si Bapak lalu ditimpakan di pangkuannya sambil diiringi dengan lembut tatapan merayu seorang wanita. Badannya mencondong sehingga tetek sebelahnya yang gede itu telah berkenalan dengan lengan Si Bapak yang kokoh.

Nah, Harimau sudah menggeliat mulai terpancing dari tidurnya. Direngkuhnya pundak Della. Dibelai-belai, dan tangan satunya mulai mengusap-usap paha. Della menggelinjang karena tangan kasar itu sangat efektif meraba ujung-ujung sarafnya.

Della sedang mencoba dunia baru. Dunia bawah tanah yang tidak pernah ditengok sebelumnya. Rasa penasaran membangkitkan gairahnya. Roknya berbelah tinggi, hingga ketika duduk pahanya sudah terpampang telanjang sampai pangkal. Si Bapak yang bibirnya hitam kasar mendekat menuju pipi. Nafas nampak mulai memburu dan bertekanan, otot-otot mukanya mulai bangkit menonjol dan mengeras.

Pemandangan erotis yang luar biasa ini ditangkap oleh mata Della sangat mengkilik-kilik nurani kewanitaannya. Ingin ia melayani dan memuaskannya. Naluri bawaan setiap wanita. Aku ikut mulai menghangat.

Ketika Della mulai membuka kancing baju batik lusuh Si Bapak satu-persatu dari ujung atas, bibir hitam dan tebal Si Bapak sedang mulai menyapu-nyapu pipi mulus Della. Pipi Della merona hangat dialiri darah yang terpacu oleh jantung yang meningkat detaknya.

Permainan semakin meningkat dengan mulai naiknya usapan telapak lebar dan kasar Si Bapak menuju pangkal paha. Della meremang. Tubuhnya menjadi makin merapat, teteknya ingin mendapatkan tekanan-tekanan yang lebih kuat dari tubuh si laki-laki perkasa. Setengah kesadarannya mulai meninggalkan dirinya. Ia ingin semua tubuhnya dirajam tangan-tangan kasar itu.

Dibelai-belainya lengan-lengan Si Bapak, menyelami betapa perkasanya lelaki ini. Darahnya berpacu kencang. Mukanya semakin merona merah memberitakan tentang hasrat. Ciuman-ciuman menjilat berpindah ke arah leher di belakang telinga Della, lenguhan-lenguhan kecil menjadi tak terbendung. Semuanya dari dalam dirinya ingin keluar bebas. Aku spanning. Tak sedetikpun kulewatkan adegan real bokep di depan mataku.

Tangan kiri Della mulai menjemput pangkal paha Si Bapak dan mulai mengusap-usap kelelakiannya. Kadang diselingi dengan menekan-nekan. Si Bapak mulai melenguh-lenguh juga. Otot-otot wajahnya semakin tegas dan menebal. Lalu menggulati dengan penuh tubuh Della, merengkuh kuat.

Yes, luar biasa. Kaki kiri Della sudah menumpang di atas paha kiri Si Bapak. Mereka mulai berpagutan sambil duduk di tepian ranjang, bibir hitam tebal berbau rokok lisong melawan bibir mungil mulus merah merekah milik Della. Sensasional sekali.

Adegan ciuman dan saling melumat berlangsung, berpagut beradu lidah. Dua kutub dunia sedang berpadu di kamar hotel ini. Karena berasal dari dua kutub ekstrim maka tarikannya luar biasa kuat. Sedotan-sedotan kuat mengiringi permainan pemanasan. Kuasa birahi mulai menancapkan kukunya pada dua makhluk yang sedang bercumbu ini.

Della tidak tahan dan sekarang mulai penuh mengangkangi dengan duduk di atas pangkuan Si Bapak. Punggungnya dijamah dan diusap-usap sampai batas leher belakang dengan tangan-tangan tua namun masih kekar dan berotot itu. Della merinding sehingga bulu kuduknya meremang. Urat-urat tuanya yang menonjol yang sedang menggarap punggung Della membangkitkan kesan visual yang luar biasa.

Adegan dilanjutkan dengan saling kulum kembali dan kedua lidah berlawanan jenis itu saling menggenjot dan berpagut. Kecipak-kecipak bunyi ludah menyemangati keduanya. Rasa jijik telah musnah dirontokkan oleh birahi yang menyeruak paksa. Libido mengambil kendali.

Si Bapak mengamati Della yang telah mulai banyak memejamkan mata dalam penghayatan. Della sudah dalam kekuasaannya. Si Bapak masih memegang kendali. Belum terlarut, pengalaman dan usia membuatnya menang angin.

Adu mulut disudahi dengan menurunnya serangan Si Bapak menuju tetek-tetek Della. Kepala Della mulai terayun-ayun ke belakang dengan mata yang sayu-sayu mengawang. Rambut ikalnya yang sepanjang bahu terburai dari ikatannya. Kaki-kaki putih langsingnya kokoh mengapit dan sudah nampak tegang.

Dari samping aku dapat melihat bagian depan Della telah ditelanjangi, tetek-teteknya telah dikupas keluar dari Bra-nya sehingga tetek-teteknya malah kelihatan tambah mencuat karena tersangga oleh Bra-nya yang masih menggantung kencang. Tetek-teteknya luar biasa mulus dan kencang, putingnya mengeras merah tua, dan sekarang sedang disedot-sedot rakus oleh Si Bapak.

"Enak Neng?", pertanyaan yang tidak perlu diajukan.

Della sudah mulai menggelepar pasrah. Semua sarafnya telah bersedia untuk meneruskan penjelajahan.

"Eehhm.. Ehh..", hanya lenguhan-lenguhan Della yang keluar sebagai tanda penerimaan yang tidak dibuat-buat.

Sensitivitas kewanitaannya telah terangsang sempurna. Pantatnya ditekan-tekankan di atas gundukan kelelakian Si Bapak yang telah menjulang karena vegynya kini telah ikut mulai gatal dan geli karena dipengaruhi hormon syahwatnya.

Pergerakan olah asmara merangkak dengan irama yang mengalir alami. Lalu tiba-tiba tangan kiri Si Bapak menyelinap dari belakang pantat Della, masuk ke dalam CD-nya dan menjangkau liang kewanitaan Della. Si Bapak ahli mengaparkan wanita agar semakin tenggelam dalam kuasa nafsunya sendiri. Semua dirangsangnya maka wanita akan mabuk birahi. Semakin liar Della menggolek-golekkan kepalanya.

"Oohh yess.. Arrgghh.. Fuck me.. Ooh my old man..", rintihan-rintihan erotis menggema di ruangan.

Si Bapak mengangkat Della dengan entengnya (biasanya mengangkat beras sekwintal, Della paling 55 Kg). Lalu direbahkannya telentang di ranjang. CD Della dilolosi. Rok dan bajunya masih dibiarkan belum dilepas. Roknya disingkap. Nampak di depan matanya sebuah keindahan dunia. Selangkangan yang bersih mulus dilengkapi dengan rambut-rambut kemaluan yang dipotong rapi. Di tengah-tengahnya bersemayam lubang kenikmatan berwarna merah dadu. Si Bapak terpana.

"Memek kayak Neng ini bagus benget ya, indah sekali dan wangi. Bapak ingin melahapnya Neng. Boleh ya Neng?".

Tanpa persetujuan Della lalu dengan rakusnya mulut Si Bapak mulai mencomot vegy Della.

"Bapak akan menjilati memek Neng sampai luber yaah..", Della mengangguk dan memohon.

Si Bapak menguakkan paha-paha putih Della lebar-lebar lalu menenggelamkan kepalanya di antara keduanya. Bau wangi vegy yang terawat Della menyergap hidungnya.

"Wangi sekali memek Neng, oohh sedapnya."
"Ooggh yess.. Fuckkerrh.. Ssucck mmee..", pantatnya terangkat-angkat ketika mulut Si Bapak mengulum bibir vegy Della.

Lidahnya mulai dimainkan keluar-masuk di liang kenikmatan Della. Kadang melesak dalam-dalam dalam rangka memburu dan mencari itil, bila ketemu terus disodok-sodokkan sampai membikin gila Della. Tangan Della terbang kian kemari, mencengkeram kepala Si Bapak agar menekan lebih kuat, menjambaki rambut sendiri, lalu lurus mencengkeram sprei kuat-kuat. Begitu berulang-ulang dan bergantian. Kaki-kaki langsing putihnya telah menumpang di atas pundak Si Bapak berkelojot-kelojot.

"Giillaa.. Ennaakkh.. Baanngeet.. Teruss.. Paakk.. Ayyoohh..", hentakan-hentakan pantatnya naik turun menandakan nafsunya sedang memuncak luar biasa. Dan yang lebih luar biasa permainan pemanasan telah berlangsung setengah jam lebih. Aku menelan ludah dan melotot. Kukeluarkan kontolku dan kukocok.

Lalu si Bapak menghentikan permainan lidahnya. Bajunya dilepas, celananya, CD-nya, dan jreenng, kontol hitamnya telah mencuat tegak berkilau-kilau, luar biasa besar dan panjang. Made in nature. Alam yang menciptakannya. Aku iri hati.
Lalu si Bapak menaiki ranjang, disorongkannya kontol supernya ke mulut Della, Della menyongsong nafsu. Tersedak. Lalu mulai menjilatinya. Meludah. Mulai menjilati kembali. Ketika batang sudah mengkilat lalu bless, dimasukkan ke mulutnya. Monyong mulutnya menampung lingga segede itu. Tegar dan kokoh. Tangan kiri Bapak menjangkau ke belakang, mencari vegy Della. Lalu dicolokkannya. Dengan jari tengahnya lalu vegy Della yang telah agak kuyup dikocok-kocok. Della menjerit-jerit.

"Buussyeett.. Arrghh.. Aadduhh.. Aaghh.. Aahh ", Della mulai menggila kembali. Kedua lubang Della disenggamai bersamaan. Mulut dan vegy-nya.
"Ayyoo neengg.. Teruss.. Aahh.. Ahh..", Si Bapak rupanya sudah mulai fly juga. Dimajumundurkan kontolnya sehingga mulut Della termonyong-monyong.
"Seddott.. Seddott.. Neng..".

Fantasi dikulum bidadari menerbangkan jiwanya menuju kesempurnaan kenikmatan yang dirasakan oleh saraf-saraf alat senggamanya. Kekuasaan virtual bahwa telah mampu menindih dan akan menyetubuhi seorang bidadari dari negeri awang-awang telah menghantar birahinya melampaui batas kesadaran. Ekstase. Osilasi pantatnya semakin akseleratif, kepala Della terpental-pental maju mundur. Dan crroott.. Crroott luar biasa pejuh yang diproduksinya.

"Oohh neenngg.. Tellan.. Teellaan.. Pejuhh.. Baappaak.. Yaagghh", sambil terhentak-hentak kelojotan Si Bapak mengangkat kepala Della dan menekan kontolnya agar tidak lepas dari mulut Della.

Della gelagapan tetapi menikmati menyeruput pejuh yang banjir di mulutnya. Menjilat-jilat lalu menelannya. Aku belum keluar, pegel sedari tegang terus belum ada hasil. Aku masih menginginkan adegan senggama kelamin vs. Kelamin.

Lalu robohlah sosok tua Si Bapak menggelosor di samping Della setelah nyaris 1 jam permainan berlangsung. Menelentang menatap langit-langit kamar, nafas ngos-ngosan dengan dada kembang kempis. Della belum klimaks. Della melap mulutnya lalu menuju toilet. Beberapa menit kemudian dia keluar dengan bertelanjang. Menghampiri Si Bapak, mengangkanginya, lalu mulai mengocok batang kontol Si Bapak. Memanasi Si Bapak, dia ingin ikut dituntaskan. Penyelesaian atas dirinya adalah keharusan.

Si Bapak semakin terpana, tubuh yang begitu indah menginginkan dirinya. Putih bak salju, lembut dan mulus. Badan ramping, tinggi, tetek besar, perut rata, pinggang kecil, pantat padat montok, usia masih belia. Tiada cacat atas dirinya. Alangkah merasa beruntungnya Si Bapak. Sudah menikmati tubuh bidadari seindah ini masih dibayar pula. Seumur-umur tidak pernah terbayangkan sama sekali bakal dianugerahi keajaiban seperti ini.

Kontol Si Bapak diusap-usapkan ke bibir vegynya. Dia ingin disetubuhi dengan sempurna, vegynya ingin dimasuki.

Mereka berdua telanjang kini. Si Bapak di bawah, Della mengangkang dan sedang mengocok. Tangan Si Bapak merengkuh tetek-teteknya, meremas-remas, memilin-milin putingnya, lalu mengenyot-ngenyotnya. Della masih panas, tetapi dia masih belum diklimakskan. Vegynya meneteskan cairan-cairan, nampak lebih kuyup dari sebelumnya.

Dibangkit-bangkitkan kembali gairah lelaki tua di bawahnya. Dan tanpa menunggu lama kontol Si Bapak mulai dialiri darah kembali sehingga mulai meregang. Della senang. Semakin ditekuninya kocok-kocokannya. Dijilatinya tetek-tetek Si Bapak. Tangannya kadang mengelus pangkal kontol, area penuh saraf, Si Bapak mulai mendengus.

Direngkuhnya agar Della mendekat, dikulum puting-puting teteknya, lalu mereka berpagutan kembali. Tangan-tangan berotot Si Bapak bergeser meremas-remas pantat montok Della. Diusap-usapnya bibir vegy Della, lalu diselipkan jari tengah kedua tangannya melesak ke lubang vegy Della. Della menjerit.

Ketegangan kontol Si Bapak telah sempurna kembali, Della menuntunnya menuju lubang miliknya. Diusap-usapkan terlebih dahulu memutari sekeliling bibir vegynya. Della terpekik-pekik dan meregang-regang. Lalu dijebloskannya kontol itu pelan dan pasti.

"Ehhg.. Egghh..", pantatnya naik turun, maju mundur, mengebor seluruh titik-titik kenikmatannya.

Matanya terpejam dengan bibir yang menganga dan mendesah-desah histeris. Pantatnya diputar-putar, mencari persinggungan kontol dengan saraf di dalam lubangnya yang paling sensitif. Bila ketemu lalu dia terpekik dan dipercepat kocokannya. Si Bapak terbawa gairah kembali sehingga pantatnya pun ikut diputar dan digoyang-goyangkan. Membikin Della semakin gila.

Berhubung Si Bapak telah sempat orgasme maka permainan ini akan memakan waktu lama. Hal ini bakal menyenangkan dan memuaskan Della sampai titik darah penghabisan. Della terus mengocok-ngocokkan vegynya. Kepalanya bergoyang dan tergolek-golek liar ke kanan-kiri. Desahannya semakin keras.

"Auh.. Auh.. Emmfh..", keringat di punggungnya mengalir deras. Mukanya berleleran peluh. Della masih butuh waktu.

Gesekan-gesekan vegynya dinikmati detik demi detik. Bibir-bibirnya digigitnya sendiri. Dia ingin berlama-lama memanjakan vegynya mendapatkan desakan-desakan kontol perkasa. Dia tidak ingin cepat berlalu, dia menahan diri. Vegynya berkedut, dia pelankan genjotannya. Bila sudah agak rileks dimulakannya lagi gesekan vegy-nya. Dia ingin menikmati semalaman vegy-nya dijajah kontol langka milik Pak Tua ini. Dia tidak ingin kehilangan kesempatan. Sudah setengah jam dia memanjakan vegy-nya.

Lalu tiba-tiba Della menghentikan kocokannya dan meregang, kepalanya melengkung dengan tangan mencengkeram dada Si Bapak kuat-kuat, badannya menggigil lalu menyentak-nyentak. Orgasmenya telah tiba.

"Ehh.. Ugghh.. Ehhmm.. Ohh.. Oohh.. Oogghh", lolongnya dan..

Crott.. Croott cairan menyemprot dari lubang vegynya. Seperti air kencing mengalir deras keluar. Jari-jari Si Bapak segera menyapu cairan itu dan menjilatinya. Dia ingin menikmati cairan kewanitaan Della. Seperti apa rasa cairan seorang bidadari.

"Enak nih pejuh Neng."

Si Bapak belum orgasme, lalu dengan cepat bangkit dan ditunggingkan Della. Dengan amat nafsu disodoknya vegy Della dari belakang.

"Ohh.. Neng.. Ooh.. Oohh.. Oohh.. Neengg", Si Bapak meracau histeris sambil memacu kontolnya menembusi vegy dengan cepat dan bertenaga.

Berkecipak-kecipak suara vegy Della dihajar kontol Si Bapak yang masih kokoh dan tegang itu. Tangan kekarnya kadang menepuk pantat bahenol dan padat Della sampai merah kulitnya, Della meringis-ringis antara nikmat dan perih. Penderitaan kadang diserap wanita sebagai bagian dari kenikmatan. Terlebih secara bersamaan dirinya sedang tenggelam dalam birahi. Adonan yang menimbulkan kenikmatan ekstra.

"Aauughh.. Aaugghh.. Eehhmggh..", Della mulai bergairah kembali. Vegynya berdenyut-denyut menyekap kontol Si Bapak sehingga dari mulut Si Bapak mencerocos erang-erangan kenikmatan.
"Emmppoott.. Neengghh.. Ennaakk.. Bbanngeet.. Adduuhh.. Heehghh..", semakin liar sodokan Si Bapak, sampai pantat Della merah-merah karena hantaman-hantaman paha Si Bapak.

Kontol diayun untuk menyodok sedalam-dalamnya. Keduanya tercerai dari kesadaran kembali. Erangan dan ceracau terlontar di luar kendali akal. Aku mulai mendaki dan kupercepat kocokan tanganku, aku masih duduk dengan resleting terbuka.

Lalu kulihat dengan kasar Della ditelentangkan dan diangkat satu kakinya yang kanan dan dipegangi. Lurus ke atas. Didekatkan kontolnya kembali, dengan tubuh tegak sejajar kaki kanan Della, Si Bapak memajukan dan menghujamkan kontolnya lalu mulai mengayuh kembali.

Keduanya berpacu kembali, berliter-liter keringat telah membanjir keluar dari tubuh keduanya sampai sprei basah kuyup. Tetek-tetek Della tergoncang-goncang hebat. Si Bapak rupanya telah gemas dan geram dalam luapan birahi yang lebih mendera dari permainan pertama. Hunjaman-hunjaman kontolnya kuat dan menyentak. Della entah telah berada di mana saat ini, mungkin dia sudah lenyap tenggelam di dasar samudera kenikmatan purba. Matanya hanya membeliak-beliak dengan erangan-erangan yang sudah semakin menghilang. Kenikmatan paling puncak telah tinggal sejengkal. Dan..

"Oohggh.. Aaghh.. Eegh.. Eeghh.. Eeghh.. Maauuhh.. Nyampaihh.. Neenngghh."

Della tidak sempat menanggapi lagi karena dia sudah melampaui batas kesadaran, kenikmatan kali ini yang dia rasakan sudah tak terukur. Kata-kata sudah lenyap tak bermakna. Lalu keduanya bersamaan nyaring berteriak..

"Aahh!!".

Keduanya melengkungkan tubuh masing-masing ingin saling memasuki, Si Bapak mencoba menembuskan kontolnya sampai ke tempat terdalam milik Della, Della ingin mencakup seluruh milih Si Bapak. Keduanya melipat dan saling mengatupkan dirinya dengan kuat-kuat ingin berpadu tak teruraikan.

Orgasme sempurna telah dilampaui. Mereka menggelepar. Diam membisu masih meringkuk dan berpadu. Aku juga keluar sudah, sambil duduk di kursi. Pengalaman luar biasa yang pernah kualami. Kontras membuat kekuatan tak terkira.

Kami lalu tertidur. Kira-kira jam 5 pagi aku terbangun karena terganggu suara berisik, rupanya kedua makhluk di depanku sedang memacu birahi kembali. Kulihat Della sedang mengangkangi kembali Si Bapak, dengan posisi membelakangi. Della telah menemukan sang pemuas nafsunya. Dia seolah ingin menghabiskan hidupnya disenggamai Si Bapak tua sang kuli pelabuhan yang kekar dan kokoh itu. Aku yakin mereka pasti akan sering bertemu setelah malam ini. Aku senang karena Si Bapak bakal tidak kesepian di ibukota ini bila sedang dilanda birahi.

Dukun Ngentot

Perkenalkan dahulu, namaku Darminto.
Aku adalah salah satu dari sekian banyak orang yang menyebut dirinya dengan istilah keren "paranormal" atau yang dilingkungan masyarakat kebanyakan dikenal dengan istilah dukun.
Ya, aku adalah orang yang bergelar mbah dukun,

meskipun sebenarnya aku sama sekali tidak percaya dengan segala hal begituan.
Aneh? nggak juga. Semenjak aku kena PHK dari perusahaan sepatu tiga tahun lalu, aku berusaha keras mencari pekerjaan pengganti. Beberapa waktu aku sempat ikut bisnis jual beli mobil bekas, tetapi bangkrut karena ditipu orang. Lalu bisnis tanam cabe, baru sekali panen harga cabe anjlok sehingga aku rugi tidak ketulungan banyaknya. Untung orang tuaku termasuk orang kaya di kampung, jadi semuanya masih bisa ditanggulangi. Cuma aku semakin pusing dan bingung saja. Untung aku belum berkeluarga, kalau tidak pasti tambah repot karena harus menghadapi omelan dan gerutuan istri.
Dalam keadaan sebal itulah aku bertemu dengan mbah Narto, kakek tua yang dengan gagahnya memproklamasikan diri sebagai paranormal paling top. Karena masih berhubungan keluarga, ia sering juga datang dan menginap di rumahku ketika dia lagi "buka praktek" di kotaku. O ya, aku tinggal di sebuah kota kecamatan kecil di Jawa tengah, dekat perbatasan jawa Timur (nggak perlulah aku sebut namanya). Meskipun kecil, kotaku termasuk ramai karena dilewati jalan negara yang lebar dan selalu dilewati truk dan bus antar propinsi, siang dan malam.Eh, kembali ke mbah Narto, tampaknya si mbah punya perhatian khusus kepadaku (atau malah karena aku memang kelihatan sekali tidak menyukai dan sinis terhadap gaya perdukunannya?). Suatu hari ia berbicara serius denganku, mengajakku untuk menjadi "murid"nya. Walah, aku hampir ketawa mendengarnya. Murid? wong aku sama sekali tidak percaya segala hal takhayul macam itu,
kok mau diangkat menjadi murid? tetapi segala keraguanku tiba-tiba hilang ketika mbah Narto menjelaskan: "punya ilmu ini bisa buat cari uang, Dar." Katanya: "apa kamu tahu berapa penghasilan dukun-dukun itu? Mereka kaya-kaya lho. Meskipun ilmunya, dibandingkan dengan ilmu mbahmu ini, masih cetek banget." Katanya dengan meyakinkan dan mata melotot.
Aku menggaruk kepalaku. Apa benar? Akhirnya aku tertarik juga. Meskipun tetap dengan ogah-ogahan dan tidak percaya, aku ikut juga menjadi muridnya. Naik turun gunung, masuk ke goa dan bertapa (ih, dinginnya minta ampun) dan dipaksa berpuasa mutih (cuman minum air dan nasi putih doang), empat puluh hari penuh. Terus terang, aku tidak merasa mendapatkan pengalaman aneh apapun selama mengikuti segala kegiatan itu. Tetapi setiap mbah Narto menanyakan "apa kamu sudah ketemu jin ini atau jin itu" atau "apa kamu melihat cahaya cemlorot (bahasa Indonesia: berkelebat)" waktu aku bersemadi, yah aku iyakan saja. Kok susah ? susah amat.Akhirnya, setelah enam bulan berkelana, mbah Narto menyatakan aku sudah lulus ujian (wong sebenarnya aku tidak tahu apa-apa). Dan dia memperkenalkan aku sebagai assistennya untuk menyembuhkan pasien dari berbagai penyakit yang "aeng-aeng" alias aneh-aneh. Bahkan setelah beberapa lama aku dipercaya untuk buka praktek sendiri, di rumahku,
dengan mempergunakan kamar samping rumah sebagai tempat praktek (meskipun aku harus membuat Yu Mini kakakku marah-marah karena meminta dia pindah kamar tidur).Setelah beberapa bulan praktek, nasehat mbah Narto ternyata benar (ini satu-satunya nasehatnya yang benar, aku kira): bahwa jadi dukun itu banyak duit! aku baru sadar bahwa salah satu syarat untuk menjadi dukun yang sukses bukanlah terletak pada ilmunya (yang aku nggak percaya sama sekali), tetapi pada kemampuannya untuk meyakinkan pasien. Dukun adalah aktor yang harus bisa membuat pasien setengah mati percaya dan tergantung padanya, dengan segala cara dan tipu daya.Pada mulanya beberapa orang datang minta tolong padaku, katanya menderita sakit aneh, pusing-pusing yang tidak tersembuhkan. Aku dengan lagak meyakinkan memberikan mantra, menyuruh mereka menghirup asap dupa, dan minum air kembang (di dalamnya sudah kucampur gerusan obat Paramex). Eh.. mereka sembuh. Dan sejak itulah pasien datang membanjir padaku.
Ada yang minta disembuhkan sakitnya (kebanyakan aku suruh mereka ke dokter dulu, kalau nggak sembuh baru kembali. Sebagian besar memang tidak kembali), ada yang minta rejeki (itu mah gampang, tinggal didoain macem-macem) ada pula yang mengeluhkan soal jodoh, pertengkaran keluarga dan lain-lain (kalau itu tinggal dinasehatin saja).Jadi inilah aku, mbah Dar, dukun ampuh dari lereng Merapi (lucu ya, aku dipanggil mbah wong umurku baru 25 tahun). Setiap hari paling sedikit sepuluh orang antre di rumahku, dari siang sampai malam. Begitu ramainya sampai akhirnya halaman depan rumahku dijadikan pangkalan ojek. Tidak kuperdulikan lagi omelan mbakyuku dan pandangan sinis orang tuaku (mereka selalu menasehati: hati-hati lho Dar, jangan mbohongi orang). Yang penting duit masuk terus, jauh lebih besar daripada gajiku saat masih bekerja di pabrik sepatu. Dengan ilmu yang asal hantam, tampang yang meyakinkan (aku sekarang pelihara jenggot panjang,
pakai jubah putih kalau praktek) maka orang-orang sangat percaya kepadaku.
Semuanya berjalan lancar-lancar saja, sampai terjadi suatu kejadian yang meruntuhkan segala-galanya.
Malam itu, jam sudah menunjukkan pukul 20.00 malam. Pasien sudah sepi, dan aku sudah merasa sangat mengantuk. Sambil menguap aku berdiri dari "meja kerja"ku, menuju pintu dan bermaksud menutupnya. Tetapi kulihat si Warno sekretarisku menghampiri: "ada pasien satu lagi mbah" bisiknya: "cah wadon (anak perempuan) huayuu banget". Dia nyengir dan menunjuk pelan ke ruang tunggu di depan. Di sana aku melihat seorang gadis dengan memakai T shirt putih dan rok warna coklat duduk di bangku. Aku tidak melihat wajahnya karena dia sedang memperhatikan TV yang memang kusediakan di situ."Masuk, nduk" kataku dengan suara berwibawa. Si gadis itu pelan-pelan berdiri, dan dengan takzim berjalan kearahku. Aku sekarang dapat melihat wajahnya dengan jelas. Aduh mak, dia memang betul-betul cantik. Rambutnya yang sebahu bewarna hitam lurus, matanya seperti mata kijang dan bibirnya seperti delima merekah (walah, puitis banget..).
Tubuhnya bongsor dengan buah dada yang seperti akan memberontak keluar dari baju T-shirtnya. Aku kira umurnya paling banter baru 17 atau 18 tahun.
"Sugeng dalu (selamat malam) mbah.." katanya agak bergetar. Wuih, suaranya juga seksi banget. Kecil dan halus, seperti berbisik. Dengan lagak kebapakan aku menyilahkannya masuk, diiringi sorot mata nakal si Warno yang seperti akan menelan bulat-bulat si gadis itu. Kupelototi dia sehingga dia cepat-cepat lari ngibrit sambil terkikik-kikik. Aku segera menutup pintu.Kulihat si gadis duduk dengan sangat hormat di kursi pasien yang kusediakan. Tangannya ngapurancang di pangkuannya, wajahnya menunduk. Cantik sekali. Dengan pura-pura tidak acuh aku menyiapkan alat-alat perdukunanku, menyalakan lampu minyak (sebagai media pemanggil arwah, pura-puranya), menyiapkan baskom kecil berisi air kembang, dan menyalakan dupa. Asap dupa segera memenuhi ruangan kecil itu.
"Siapa namamu, nduk?"tanyaku tanpa memandangnya, tetap sibuk melakukan persiapan.
"Suminem, mbah" katanya. Wah, nama lokal betul.
Aku berdeham: "berapa umurmu? "
Si cantik itu menjawab pelan, tetap menunduk: "empat belas tahun, mbah". Wah, aku hampir terlonjak kaget. Empat belas tahun? masih kecil banget, tetapi bagaimana kok tubuhnya sudah demikian bongsor, dadanya sudah demikian besar..
Aku menelan ludah: "bocah cilik begini kok beraninya malam-malam datang ke sini. Ada masalah apa nduk?" aku sekarang duduk di kursi di depannya, dibatasi meja yang penuh segala pernik perdukunan. Si Suminem sekarang mengangkat kepalanya, raut wajahnya tampak sangat gelisah. Matanya jelalatan ke kiri kanan. Suaranya yang kecil bergetar: "nyuwun sewu mbah, sebetulnya saya sangat gelisah dan takut. Nyuwun tulung mbah.." suaranya semakin rendah dan bergetar, seperti sedu sedan.Kemudian dengan cepat dan dengan suara tetap bergetar, dia bercerita bahwa ada seorang laki-laki, bernama Kasno, yang sangat ditakutinya. Kasno adalah tetangganya yang sudah punya istri dua dan anak segerendeng, tetapi masih hijau matanya kalau melihat cewek cantik. Karena rumahnya sederetan dengan rumah Suminem, tiap hari dia bisa melihat Pak Kasno memandangnya seperti tidak berkedip. Lebih celaka lagi, karena kamar mandi rumahnya menjadi satu dengan kamar mandi rumah Pak kasno,
maka semakin besar kesempatan lelaki hidung belang itu mencuri pandang pada tubuhnya yang bahenol itu. Bahkan pernah suatu hari Suminem berteriak ? teriak dan lari keluar dari kamar mandi, karena ketika ia sedang mandi melihat kepala Pak kasno mengintip dari bagian atas kamar mandi yang memang tidak tertutup. Itu saja belum cukup. Hingga suatu hari.."Pak Kasno tiba-tiba mendatangi saya, mbah" katanya. Si hidung belang itu katanya bicara baik-baik, bahkan sangat kebapakan. Tetapi yang membuat Suminem kaget, dia tiba-tiba mengeluarkan sebotol kecil air, entah apa itu. Dengan sangat cepat si hidung belang memercikkan air di botol itu ke wajah dan tubuh Suminem. Tentu saja si gadis kecil nan bahenol itu berteriak, tetapi Pak kasno cepat-cepat minta maaf dan dengan lembut memberi penjelasan: "Enggak apa-apa, Nem, itu tadi cuma air kembang kok. Bapak ini lagi belajar ilmu kebatinan, jadi bapak mengerti cara-cara untuk membahagiakan orang.
Bener lho Nem, nanti setelah kena air tadi kamu akan merasa bahagiaa sekali". katanya tersenyum.
Suminem tentu saja semakin kesal: "bahagia bagaimana to Pak?" tanyanya: "Wong sudah mbasahin baju nggak bilang-bilang, masih juga mbujuk-mbujuk segala."pak Kasno katanya hanya tersenyum senyum saja dan menjawab: "wong bocah cilik, durung ngerti (belum mengerti) roso kepenake wong lanang (rasa enaknya laki-laki) Nduk, nduk, nanti saja kamu kan tahu" dan dengan bicara begitu si hidung belang ngeloyor pergi.Setelah kejadian itu "Pikiran saya jadi bingung, mbah" cerita Suminem: "setiap malam saya menjadi terbayang wajahnya Pak Kasno, sepertinya dia itu mau menerkam saya saja" dia bergidik ngeri: "malah saya sampai mimpi.." Dia tidak melanjutkan. Aku pura-pura menghela napas penuh simpati. Sebenarnya, kalau saja yang bicara ini bukan gadis sebahenol Suminem pasti aku sudah menyuruhnya angkat kaki. Bosen. Tapi melihat anak secantik ini, waduh, kok tiba-tiba.. rasanya ada yang berteriak-teriak di balik celanaku..
Jangkrik tenan, pikirku. Rasanya aku mulai terangsang pada gadis ini.
"Teruskan Nduk" kataku penuh wibawa: "kamu mimpi apa?"
Suminem menggigil. Suaranya tersendat-sendat: "aduh mbah, nyuwun sewu, mbah, saya lingsem (malu) banget.." Wah, ini dia. Dengan gaya kebapakan (kok sama dengan ceritanya soal si hidung belang Kasno itu?), aku berdiri dan mendatangi dia, duduk di sebelahnya dan memeluk pundaknya. Lembut dan hangat. Nafsuku tambah naik: "wis, wis" kataku menenangkan: "ora susah bingung. Ceritakan saja. Si mbah ini siap mendengarkan kok".Akhirnya setelah mengatur napas, Suminem melanjutkan: "anu.., saya sering mimpi, lagi di anu sama Pak Kasno. Bolak balik mbah, bahkan hari-hari terakhir ini rasanya semakin sering". Aku berusaha menahan tawa: "dianu kuwi opo karepe (apa maksudnya) to Nduk?" dia tampak semakin malu: "ya itu lho mbah..seperti katanya kalau suami istri lagi dolanan (bermain) di kamar itu lho.. katanya mbak-mbak saya seperti itu". Waa..nafsuku semakin meningkat tajam. Tambah kugoda lagi (meskipun tetap dengan mimik muka serius, bahkan penuh belas kasihan): "coba to ceritakan yang jelas,
seperti apa yang dilakukan si Kasno dalam mimpimu itu?"
Akhirnya si Suminem ini tampaknya berhasil menguatkan hatinya. Suaranya lebih mantap ketika menjelaskan: "pertamanya. Saya ngimpi Pak Kasno berdiri di depan saya, wuda blejet (telanjang bulat). Terus, saya tiba-tiba juga wuda blejet, terus.. Pak Kasno memeluk saya, menciumi saya, di bibir dan di badan juga.." dadanya naik turun, seakan sesak membayangkan impiannya yang luar biasa itu.
Aku semakin panas mendengar ceritanya itu: "apanya saja yang dia cium, Nduk?" tanyaku. Suminem tampak malu "di sini, Mbah" katanya sambil menunjuk buah dadanya: "di cium dan disedot kanan kiri, bolak balik. Terus ke bawah juga.." Ke bawah mana, tanyaku: "ke..ini Mbah, aduh, lingsem aku. Ke ini, tempat pipis saya. Di ciumi dan dijilati juga.." dia semakin menunduk malu. Suaranya terhenti. Nah, tiba-tiba ada pikiran licik di otakku. Segera aku bertindak."KASNO KEPARAT!" teriakku tiba-tiba. Aku meloncat berdiri, diikuti si Suminem yang juga terlonjak kaget mendengar bentakanku: "Mbah.. Mbah.. kenapa Mbah?" tanyanya bingung.
Aku sekarang berdiri di depannya, tanganku memegang pundaknya. Suaraku penuh ketegasan tetapi juga bernada kuatir: "Nduk, Nduk, kamu dalam bahaya besar. Si kasno itu pasti sudah nggendam (menyihir) kamu. Mimpimu itu baru permulaan dari ilmu gendamnya. Setelah ini kamu akan semakin terbayang pada wajahnya, sampai lama-lama kamu tidak akan bisa berpikir lain selain mikirin dia. Lalu, dia tinggal menguasaimu saja.."mataku mendelik: "mesakake banget (kasihan sekali) kowe Nduk.." si Suminem tampak sekok (shock) berat mendengar ucapanku yang meluncur seperti senapan mesin itu: "terus bagaimana Mbah, tolong saya Mbah.." katanya seperti orang setengah sadar.Aku menghela napas panjang, menggeleng-gelengkan kepala: "berat, Nduk. Aku bisa menolongmu, tetapi itu sangat berbahaya. Bisa-bisa ilmu gendamnya berbalik kepadaku. Bisa mati aku." Kulihat matanya membelalak penuh kengerian: "jadi.. lalu bagaimana Mbah? Apa yang harus saya lakukan?" tanyanya dengan suara bergetar.
Aku sekarang memeluknya (aduh, badannya betul betul bahenol. Kenyal dan hangat): "ya sudah Nduk, aku kasihan kepadamu" kataku kebapakan: "aku akan mencoba menolongmu, dengan sepenuh ilmuku. Pokoknya, kamu harus mau nglakoni (melaksanakan) semua perintahku, ya Nduk. Kamu bersedia ya Nduk?" kurasakan tubuh dalam pelukanku itu bergetar. Kudengar ia terisak pelan: "matur nuwun sanget Mbah.. saya sudah ndak bisa mikir lagi.."Kulepaskan pelukanku. Sekarang suaraku berubah penuh wibawa: "sekarang, untuk menghilangkan ilmu hitam itu, kamu harus nglakoni persis sama dengan mimpimu itu" kataku: "buka bajumu, Nduk". Ku lihat matanya terbeliak heran, tetapi segera meredup dan dia menghela napas: "inggih Mbah, sakkerso (terserah) kulo nderek kemawon (saya ikut saja)". Dan dengan cepat ia membuka kaos T-shirtnya, meletakkan di kursi. Aku menelan ludah. Branya putih, berkembang-kembang. Buah dadanya putih sekali, menggelembung di belakang bra yang tampak agak kekecilan itu.
(baru 14 tahun kok sudah besar banget ya? Pikirku. Jangan ? jangan anak ini kebanyakan hormon pertumbuhan).
Sekarang ia membuka roknya, merosot di lantai. Ia berdiri di depanku, tetap dengan sangat hormat. Tangannya ngapurancang di depan celana dalamnya. Dia memandang padaku dengan polos: "Sudah, Mbah" katanya. Aku mendeham: "belum Nduk" kataku: "Aku bilang semuanya. Buka juga pakaian dalammu. Ilmuku nggak bisa masuk kalau bagian tubuhmu yang diciumi si bangsat itu masih terhalang kain". Suminem tampak sangat bingung, hampir semenit dia berdiri terpaku dengan berkata apapun. Tetapi akhirnya dia menghela napas, dan mengulangi perkataannya tadi: "inggih Mbah, kulo nderek" dan dengan cepat ia membuka kaitan branya, dan sebelum kain itu jatuh ke lantai dia melanjutkan membuka celana dalamnya. Sekarang dia benar-benar wudo blejet (telanjang bulat) di depanku.Nah pembaca, karena cerita ini adalah untuk konsumsi sumbercerita.com, maka saya wajib menceritakan detail mengenai sosok indah di depanku ini. Si Suminem ini sangat cantik
(kok agak mirip aktris Dian Nitami ya?) kalau tinggal di Jakarta dia pasti sudah jadi rebutan cowok atau masuk jadi bintang sinetron. Tubuhnya tidak terlalu tinggi (mungkin 158 cm), kulitnya sungguh halus, kuning agak keputih-putihan. Buah dadanya segar mengkal dengan puting berwarna coklat kemerahan, terlihat agak menonjol ke luar. Pinggangnya bagus, meskipun agak sedikit gemuk di perut. Pahanya juga sangat mulus meskipun agak sedikit buntek (nggak apa-apalah..nobodies perfect kata orang Inggris). Nah, di bawah perutnya, di selangkangannya terlihat segundukan kecil sekali bulu-bulu kemaluan, pas dan cocok dengan usianya yang baru 14 tahun. Bulu-bulu itu belum mampu menutupi belahan kemaluannya yang berwarna kemerahan, tampak agak nyempluk (menonjol) ke depan.Haduuh biyuung.. aku terangsang berat. Kukedip-kedipkan mataku, dan berkali ? kali aku menarik napas dalam-dalam untuk mengontrol nafsuku.
Dengan gerakan ditenang-tenangkan aku mengambil gelas dan mengisinya dengan air kembang dari baskom di mejaku.
Aku mendekati dia: "bagian mana yang diciumi si Kasno dalam mimpimu itu, Nduk?" tanyaku. Ia tampak berpikir sebentar, dan kemudian meunjuk bibirnya: "ini Mbah, saya di sun di bibir", katanya. Tanpa ragu-ragu aku mencipratkan air dalam gelas itu ke bibirnya. Aku kemudian menunduk ke bawah, mulutku berkomat-kamit (sebenarnya aku tidak membaca mantera, cuma mengitung satu tambah satu dua, dua taMbah dua empat dan seterusnya dengan cepat). Kemudian aku menghela napas dan berkata: "aku juga harus melakukan yang sama Nduk. Supaya ngelmu hitamnya bisa kesedot keluar". Dan tanpa minta ijin lagi, kuseruduk mulutnya dan kucium dengan nafsu berat.Kurasakan si Suminem berdiri kaku seperti kayu, tampak sangat kaget dengan seranganku itu. Mulutnya terkunci rapat sehingga bibirku tidak menyentuh bibirnya sama sekali. Aku jadi kesal: "buka mulutmu Nduk, terima saja. Jangan takut, memang supaya melawan ilmu hitam ini lakunya harus begitu", ia tersengal sengal: "Ing..inggih Mbah.." Katanya.
Dan dengan canggung dia membuka mulutnya. Sekarang aku menciumnya lagi, kini dengan lembut. Tidak ada perlawanan. Kulumat bibirnya, dan kusedot ke luar. Lidahku masuk ke dalam rongga mulutnya, bergerak ke kiri kanan tetapi tidak mendapat respons dari lidahnya. Tampaknya ia masih sangat kaget dan bingung dengan tindakanku ini.Akhirnya, setengah kecewa, kulepaskan ciumanku. Harus ada cara supaya dia terangsang, pikirku. Aku bertanya: "mana lagi Nduk, yang dicium si Kasno?", Suminem sekarang menunjuk belakang telinganya, dan jarinya turun menyelusur leher: "di sini Mbah.." katanya. Sekali lagi aku memercikkan air bunga dari gelas ke bagian yang ditunjuknya, dan mendekatkan mulutku ke belakang telinganya. Kucium pelan-pelan, dan kupermainkan dengan lidahku. Tenang, jangan terburu nafsu, pikirku. Kalihkan ciuman dan gesekan lidahku ke lehernya yang mulus. Kukecup kecup halus. Aku merasakan napasnya mulai naik. Nah, ini dia. Dia mulai terangsang.
"Bagaimana rasanya, Nduk?" bisikku. Dia tidak menjawab, tetapi napasnya semakin menaik: "hegh..eemmh.." erangnya. Dan tiba-tiba dia menjauh dariku. Wajahnya menunduk ke bawah: "kenapa?" tanyaku: "kamu rasa sakit ya Nduk? pusing?" tanyaku penuh kebapakan. Dia menggeleng: "a..anu Mbah.. rasanya keri (geli) sekali..". Aku pura pura tertawa lega: "naah, kalau kamu nggak rasa sakit, cuma geli saja, artinya ilmunya memang belum masuk terlalu dalam. Syukurlah. Sekarang Mbah teruskan ya. Mana lagi yang di cium si kasno?" sekarang dia menunjuk buah dadanya: "di susuku ini Mbah, dicium bergantian, kiri kanan.." Nah, ini dia. Kupicratkan air kembang ke buah dadanya, dan dengan lagak sok yakin kupegang kedua bukit indah itu. Sekali lagi aku menunduk ke bawah, mulai komat-kamit membaca mantera matematikaku. Aku tampak sangat serius, meskipun sebenarnya aku sekuat tenaga berusaha mengendalikan nafsuku yang sudah tidak ketulungan berkobarnya.
Akhirnya aku menundukkan kepalaku: "harus kusedot, Nduk. Di sini manteranya kuat sekali. Si Kasno bangsat itu sudah masuk dalam sekali ke tubuhmu." Kulihat ia mengangguk, mekipun tampak masih sangat ragu. Pertama kukecup buah dada kirinya, merasakan kelembutan kulitnya yang sangat halus. Kecupanku berputar melingkar, hingga bagian bawah susu yang mengkal itupun tak luput dari kecupanku. Akhirnya aku berhenti di putingnya, kupermainkan sedikit dengan lidahku dan akhirnya kukulum dengan lembut. Mulutku menyedot-nyedot barang indah itu dengan bernafsu, dan lidahku menari-nari di putingnya. Kurasakan puting itu semakin membesar dan mengeras. Sedangkan jari tangan kananku terus meremas ? remas dada kanannya, mempermainkan putingnya secara berirama sama dengan irama gerakan lidahku di puting kirinya.Nah, akhirnya pertahanan si genduk Suminem bobol juga. Tubuhnya yang tadinya kaku seperti kayu, sekarang terasa melemah. Tangannya memegang kepalaku, tanpa sadar mengelus ? elus rambutku yang gondorong.
Mulutnya mendesis-desis dan menceracau pelan: "Mbah..aduuh Mbah.. jangan.. gelii sekali.. aduuhh.." tetapi aku tidak perduli lagi. Tubuh Suminem terasa bergoyang- goyang, semakin lama semakin keras. Kupindahkan kulumanku ke puting kanannya. Aku melihat ke atas, kulihat kepala Suminem menunduk dalam-dalam sementara tangannya tetap memegang kepalaku. Matanya tertutup rapat dan mulutnya juga terkatup rapat. Ekspresinya seperti dia sedang mengejan atau menahan sesuatu yang sangat nikmat.
Horee, aku berhasil! teriakku dalam hati. Jelas dia kini juga terangsang berat. Semakin asyik saja nih, pikirku. Kini kulepaskan hisapanku di susunya dan bertanya (pasti suaranya sudah tidak tampak berwibawa lagi, tapi penuh nafsu): "terus, habis cium susumu, dia cium lagi di sini ya?" tanyaku, sambil menunjuk pada kemaluannya: "i.. iya Mbah.." katanya bergetar: "di pipis saya.. dicium terus dijilatin".Aku mengangguk pura pura maklum, dan menghela napas seperti sedih dan terpaksa: "ya sudah Nduk, karena begitu ya supaya pengaruh setannya hilang, Mbah juga terpaksa harus melakukan yang sama. Coba kamu duduk di meja ini". Kataku sambil membimbingnya duduk di meja praktekku. Dengan canggung dia menurut: "buka lebar-lebar kakimu Nduk" kataku. Dia tampak bingung sehingga harus kubantu. Kubentangkan paha kiri dan kanannya sehingga dia duduk mengangkang di mejaku. Kini tampaklah kemaluannya dengan jelas, kemaluan anak ABG yang baru ditumbuhi sedikit rambut. Warnanya kemerahan dan sangat merangsang.
Jelas ini tempik (istilah khas daerahku) yang belum pernah dijamah laki-laki. Mataku berkunang-kunang karena nafsu.Sekarang aku mengambil kursi, meletakkan tepat di depannya. Aku duduk di kursi itu dan mencondongkan tubuhku ke depan, sehingga wajahku sekarang berhadapan langsung dengan kemaluannya, hanya berjarak sekitar sepuluh sentimeter. Bau khas kemaluan perempuan menyebar dan tercium hidungku. Aku menelan ludah: "agak naikkan bokong (pantat)mu Nduk, supaya Mbah gampang nyiumnya" perintahku. Kini dia menuruti dengan patuh, mengangkat pantatnya sehingga kemaluannya semakin lebar terbuka di depan wajahku. Dengan lembut kugosok-gosok mahkota wanita itu dengan tanganku, ke atas ke bawah dan sebaliknya. Kuremas-remas halus bulu-bulunya yang jarang, dan akhirnya kukecup kelentitnya dengan bibirku.
"Aaggh.." Suminem mengerang (mana ada sih cewek yang kuat kalau dibegituin?). aku semakin menggila. Kukecup-kecup kemaluannya dengan gemas, dari bagian atas hingga bawah, lidahku menyelusuri belahan kemaluannya dan menerobos bagian dalamnya yang berwarna merah muda dan basah. Tubuhnya semakin menggelinjang. Napasnya terdengar semakin memburu. Akhirnya kecupan dan jilatan lidahku berhenti di kelentitnya. Kukecup-kecup terus kelentit yang tampak semakin membesar itu, dan akhirnya kuhisap dengan kuat. Sambil menghisap, lidahku tetap dengan aktif menjilati kelentit itu sementara tanganku terus mengelus elus daerah bawah kemaluannya, kadang-kadang jariku menyelusup ke lobang kemaluannya yang terasa semakin lama semakin basah.Suminem sama sekali sudah lepas kontrol. Erangannya semakin keras (untung saja suara TV di luar sangat keras dengan lagu dangdut, moga-moga erangannya tidak ada yang mendengar). tubuhnya berkelojotan ke kiri ke kanan,
tangan kanannya menumpu ke meja sedangkan tangan kirinya memegang kepalaku. Di remas-remasnya rambutku dan setiap kali kepalaku agak merenggang, ditekannya lagi ke kemaluannya.Jangkrik, pikirku. Aku hampir tidak bisa bernapas. Tetapi bagaimanapun suasananya sangat asyik. Aku semakin tenggelam dalam permainan yang penuh nafsu ini. Kusungkupkan kepalaku semakin dalam di selangkangannya. Tidak kupedulikan lagi bahwa kursi dan meja reyot yang kami gunakan semakin kuat bergoyang dan berderak-derak. Sampai akhirnya: "aakhh.. ad..uuh.. mbaah.. aku..aa.." jeritan yang entah apa artinya itu meluncur keluar dari mulut si bahenol, diikuti dengan semprotan cairan dari lobang kemaluannya. Basah dan hangat, sebagian menempel di dagu dan jenggotku.Akhirnya kuangkat kepalaku dari kemaluannya, dan kucium dahinya yang menunduk dengan napas tersengal-sengal. Aku berbisik: "piye, Nduk? Kamu sudah merasa enakan sekarang?" dia mengangguk: "i..iya Mbah.. enakan sekarang.." aku hampir ketawa.
Goblok juga anak ini, sudah sekian jauh belum juga sadar kalau aku kerjain. Sekarang sampailah pada tahap selanjutnya, pikirku.
Tanpa basa basi aku melepaskan jubahku dan celana dalamku. Kulihat wajahnya yang tadinya menunduk sayu sekarang terangkat, matanya membeliak melihat aku sudah telanjang bulat di depannya. Aku harus akui kalau badanku cukup atletis (wajahku juga nggak jelek-jelek amat lho, terutama kalau janggut professionalku ini dicukur). Batang kemaluanku (istilah di daerahku: kontol) lumayan besar, dan selalu jadi kekaguman cewek-cewek yang pernah main seks denganku.
Mbah melihat dari pipismu tadi, ternyata ilmu gendamnya si Kasno sudah masuk dalam sekali ke dalamnya. Mbah sudah coba sedot sedot tadi, tidak mau keluar juga. Berbahaya sekali Nduk, nanti kalau dibiarkan jadi ngabar (menguap) masuk ke pembuluh darahmu, bisa mati kowe. Mbah harus mencoba cara yang lebih kuat. Agak sakit mungkin Nduk, nggak apa-apa ya?" kataku penuh rasa sayang dan kasihan. Kuelus rambutnya yang sekarang tampak awut-awutan. Dia mengangguk, mengulang lagi kata-katanya yang bego tadi: "inggih Mbah, kulo nderek kemawon..". Aku mengangguk-angguk: "anak baik. Kasihan sekali kowe Nduk".
Sekarang aku mengangkat tubuhnya yang sudah lemas dari atas meja, dan dengan lembut membimbingnya ke dipan yang ada di sudut. Kubaringkan tubuh bugil yang sudah lemas itu, dan dengan hati-hati kulebarkan kakinya. Kini dia terbaring mengangkang, kemaluannya terbuka lebar seakan siap menerima segala kenikmatan duniawi. Aku duduk berlutut, kemaluanku sudah tegang betul dan kini terarah ke lobang kemaluannya. Kugesek-gesek kepala jagoanku ke kelentitnya. Dia mengerang pelan, matanya tertutup rapat. Kurendahkan tubuhku, kini aku telungkup di atas badannya. Kukecup bibirnya dengan lembut: "sudah siap, ya Nduk. Agak sakit, ditahan saja. Pokoknya Mbah usahakan kamu jadi sembuh betul". Dia mengangguk, tidak membuka matanya: "inggih Mbah" desisnya lirih.Kini aku memegang batang kemaluanku, dengan sangat hati-hati menusukkannya ke kemaluan si Suminem yang masih basah kuyup bekas hisapanku tadi. Satu senti..dua senti.. tiga senti.. sempit sekali.
Suminem mengerang: "ss.. sakit Mbah.." tampak wajahnya mengernyit kesakitan. Tangannya memegang dan meremas lenganku. "Tenang Nduk..tenang.. tahan sedikit.. nanti lama-lama sakitnya hilang, berganti rasa enak".Aku harus mengakui, inilah lobang kemaluan ternikmat yang pernah kurasakan. Sebelumnya aku hanya bisa bermain dengan pelacur-pelacur, atau paling banter dengan si Jaetun janda muda yang gatel di desa sebelah. Semuanya sudah melongo lubangnya, sama sekali tidak enak. Tetapi yang ini, sungguh lezat, legit dan super sempit. Dasar perawan.. kutekan agak keras kemaluanku, diikuti dengan teriakan Suminem: "aauuwww.. saakiit Mbah.." aku cepat-cepat melumat bibirnya, agar teriakannya tidak berkembang menjadi raungan..<Sekarang dengan cepat dan akhli aku menekan kemaluanku, sekalian saja sakitnya pikirku. Dan..bless..masuklah seluruh kemaluanku ke dalam lobang memeknya. Tubuh Suminem terlonjak di bawahku, tangannya meremas lenganku sangat keras.
Matanya terbeliak, tetapi mulutnya tidak bisa memekik karena tersumpal bibirku. Aku diam sejenak, menunggu lonjakannya hilang.Akhirnya dia diam, hanya napasnya masih tersengal-sengal. Sekarang, setelah semua tenang, kulepaskan ciumanku: "masih sakit, Nduk?" dia mengangguk: "tapi lama-lama nggak perih kan?" dia mengangguk lagi. Lugu betul anak ini: "Mbah terusin ya? tidak lama lagi kok". Sekali lagi dia mengangguk. Kugoyangkan pantatku lagi pelan-pelan, tidak ada respon penolakan darinya. Kogoyangkan lagi semakin kuat, dan tanganku mulai menggerayang memainkan puting susunya. Dia mengeluh. Dia merengek. Jelas si Suminem ini mulai menikmati permainan ini. Pinggulnya mulai ikut bergoyang, meskipun agak kaku.Aku tidak berani merubah posisiku ini, takut kalau dia kesakitan lagi. Goyanganku juga kuusahakan seteratur mungkin, tidak terlalu cepat juga tidak terlalu lambat. Malah goyongannya yang semakin lama semakin tidak teratur. Kepalanya bergoyang ke kiri dan ke kanan,
mulutnya mendesis-desis dan tangannya mencengkeram erat lenganku. Matanya terpejam dan raut wajahnya menampakkan campuran kesakitan dan kenikmatan yang sangat.Dipan bobrok ini mulai terdengar berkeriet-keriet. Akhirnya terdengar proklamasi si Suminem, persis seperti tadi: "aakhh.. ad..uuh.. mbaah.. aku.. aa.." dan kurasakan cairan menyemprot di lobang kemaluannya. Akhirnya kepalanya terkulai lemas ke kiri (sejak kami mulai main tadi, matanya terus terpejam). Aku mengutuk dalam hati. Jangkrik, aku sendiri belum keluar nih. Kuperkuat genjotanku, kufokuskan pikiranku pada kenikmatan yang kualami sekarang ini. Kuremas-remas susunya semakin kencang. Dan akhirnya kurasakan desakan dalam kemaluanku, desakan yang sudah sangat kukenal. Aku sudah mau orgasme.Tetapi aku tidak ingin mengakhiri permainan ini begitu saja. Kukeluarkan tembakan terkhirku: "Nduk, Nduk, Mbah rasa ajiannya si Kasno sudah berhasil Mbah hilangkan.
Tetapi kau harus meminum ajian dari tubuh Mbah ya? supaya kamu kebal terhadap segala ngelmu hitam macam ini". kataku tersengal-sengal. Suminem hanya mengangguk saja, matanya tetap terpejam. Melihat tanda persetujuan itu, aku segera mencopot kemaluanku dari memeknya, begitu cepat sehingga terdengar suara, "plop". Aku segera mengangkang di atas tubuhnya, batang kemaluanku kuarahkan ke mulutnya: "ini Nduk" kataku. Tangan kananku mengangkat kepalanya yang terkulai, sedangkan tangan kiriku terus mengocok batanganku.Mata si Suminem membuka malas, melihat senjataku bergelantung di depan wajahnya. Aneh, Dia tidak tampak kaget lagi (mungkin lama-lama dia sudah biasa?) dia menggumam malas: "mana obatnya Mbah? sini biar aku minum." Aku mendesah penuh nafsu: "ini Nduk, obatnya ada dalam burung Mbah ini. Minumlah" kataku. Suminem menjawab dengan malas, seperti orang setengah sadar: "dihisep dulu Mbah? Sini gih. Biar cepet selesai". Dan tanpa bertanya lagi, dia memegang kontolku dan memasukkan ke mulutnya.
Waduh, hebat banget si geNduk ini.Meskipun tetap dengan gaya malas, seperti setengah sadar, dia mulai menyedot nyedot kemaluanku dan lidahnya secara reflek juga bergerak-gerak menyelusuri batang kontolku. Aku bergetar hebat. Kutelungkupkan tubuhku di atas tubuhnya, dan kugoyangkan pinggulku sehingga kemaluanku bergerak keluar masuk mulutnya. Rasanya bahkan lebih nikmat daripada bersetubuh biasa. Beberapa kali tanpa sengaja gigi Suminem bergesekan dengan kemaluanku, membuat kenikmatan yang kurasakan semakin melambung.Kupercepat goyanganku, tetapi tetap menjaga agar dia tidak sampai tersedak. Akhirnya tekanan dalam kemaluanku tidak dapat kutahan lagi: "Nduk, ini Nduk.." erangku: "telan semua ya" dan croot.. muncratlah air maniku ke dalam mulutnya. Kurasakan hisapan dan jilatannya berhenti. Dua kali lagi aku menyemprotkan maniku di mulutnya, semuanya tampak tertelan (karena posisinya terlentang, jadi tidak ada yang terbuang keluar).
Kudiamkan posisi ini agak lama, sampai kurasakan kemaluanku mulai mengecil dan akhirnya lepas sendiri dari mulutnya. Aku berguling ke samping, kulihat Suminem tetap telentang dengan mata tertutup. Bibirnya yang seksi kini tampak berlepotan air mani, tampaknya masih ada maniku yang tertahan di mulutnya dan belum tertelan. Aku bangun dan mengambil gelas berisi air kembang tadi, dan menyodorkan kemulutnya dengan lembut: "minum Nduk, minum. Biar semua obat Mbah masuk ke badanmu. Ini air kembang juga berkhasiat kok." Dia menurut dan meneguk habis air itu. Akhirnya kubimbing dia berdiri, dan kubantu dia memakai bajunya. Aku juga memakai bajuku. Kami sama sekali tidak bicara saat itu.
"Bagaimana Nduk? Apakah kamu sudah merasa enakan?" dia diam saja. Tangannya menyisir rambutnya, dan membetulkan bajunya yang awut-awutan. Kuelus rambutnya."Mbah, apakah pasti saya sudah sembuh?" tanyanya dengan suara bergetar. Aku mengangguk: "pokoknya, semua sudah beres.
Tadi Mbah itu mempertaruhkan nyawa Mbah lho. Kalau gagal tadi pasti ilmu hitamnya si Kasno berbalik menghantam Mbah. Untunglah semua sudah berakhir."Dia mengangguk, wajahnya tetap menunduk: "matur nuwun, Mbah." Katanya: "Berapa saya harus bayar Mbah?" aku tergelak: "wis, wis, bocah ayu, Mbah nggak minta bayaran kok. Bisa menyembuhkan kamu saja Mbah sudah bersyukur banget." Kulihat bibir si Suminem tersenyum halus, mengangguk dan meminta ijin pulang. Kubuka pintu kamarku dan aku memanggil salah satu tukang ojek yang mangkal untuk mengantarkannya pulang. Dalam beberapa detik, tubuh bahenol Suminem hilang tertelan kegelapan malam.Aku menghela napas dan masuk kembali ke kamar. Tiba-tiba aku tertegun. Lha, kok aku sampai tidak menanyakan si Suminem itu tadi siapa ya? karena sudah terbelit nafsu aku sampai tidak menanyakan pertanyaan ? pertanyaan standar seorang dukun: rumahmu dimana, bapakmu siapa..Ah, aku menggeleng.
Rasanya aku tidak pernah lihat dia sebagai warga sekitar sini. Mungkin dia dari Wonolayu, desa sebelah sana. Biarin saja. Aku masuk kamar praktekku, dan segera menggelosor di dipan yang tadi kugunakan untuk bercinta dengan Suminem. Dalam beberapa menit aku terlelap. Entah berapa jam aku tertidur, ketika sayup-sayup kudengar..TOK..TOK..TOK.."Bangun, Darmanto bangsat! bangun!" suara yang sayup-sayup tadi kini menjadi semakin jelas seiring dengan meningkatnya kesadaranku. Dengan terseok-seok aku berdiri dan menuju pintu, membukanya dengan malas. Baru pintu kubuka sedikit, tiba-tiba.. bruuk..seorang laki-laki tinggi besar menyerbu masuk, dan tanpa basa-basi tangannya menampar pipiku. Aku mengaduh dan terbanting ke lantai. Waktu aku melihat siapa si pembuat onar itu, kulihat Mas Darmin, blantik (pedagang sapi) tetanggaku, sedang berdiri dengan mata merah dan berapi-api. Tubuhnya yang tinggi besar dan berkumis melintang (dia memang keturunan warok Ponorogo) tampak sangat menyeramkan.
Aku berteriak keheranan: "mas.. Mas Darmin.. ada apa ini? kok tiba-tiba kesetanan kayak gini?"Mas Darmin balas berteriak, matanya semakin mendelik: "kesetanan gundulmu.. kamu yang kemasukan setan! apa yang kamu lakukan kemarin malam, Dar? ayo ngaku!!". aku semakin bingung: "yang apa to mas? aku ora ngerti." Si warok itu tampak semakin marah: "kemarin malam! si Suminem! Sumineemm! kamu apakan dia?"Wah, aku jadi kaget. Suminem itu apanya dia? kalau anak tidak mungkin, aku tahu Mas Darmin cuma punya dua anak laki-laki: "si Suminem itu apanya mas?" tanyaku. Mas darmin berteriak marah: "kuwi ponakanku, bedes (monyet)! semalam dia datang ke rumah, katanya baru ke kamu terus karena kemalaman dia takut pulang ke rumahnya di Wonolayu. Di rumah dia nangis-nangis, katanya pipisnya sakit sekali. Waktu dilihat mbakyumu, celana dalamnya ternyata basah oleh darah. Walaah..dia akhirnya ngaku semua apa yang kamu lakukan. Iyo tho? ayo ngaku, bedes!" dan dengan berkata begitu ia menubruk lagi tubuhku.
Satu bogem mentah kembali melayang ke pipiku. Aku berteriak kesakitan.Aku hanya bisa meratap: "mas.. mas.. ampun mas, aku tidak mau kok sebetulnya..si Suminem yang memaksa.." aku coba membela diri sebisanya. Mendengar itu, Mas darmin jadi semakin marah: "opo jaremu (apa katamu)? Si Suminem yang minta? kamu kira keluargaku kuwi keluarga perek opo? pikirmu si Suminem kuwi bocah nakal tukang goda wong lanang? weehh.. kurang ajar kowe Dar. Bangsat! asu! kucing! wedus! bedes!" dan sambil mengeluarkan perbendaharaan nama segala jenis binatang yang ada dalam kepalanya, Mas Darmin kembali menendang tubuhku yang sedang menggelosor pasrah di lantai. Dan dengan ngeri kulihat tangannya mulai menarik pecut (cemeti) yang melingkar di pinggangnya, pecut yang biasa dia gunakan kalau lagi akan jualan sapi. Aku semakin meringkuk: "ampuun maas.." rengekku.Dalam suasana yang sangat genting itu, tiba-tiba beberapa orang menerobos masuk.
Aku melihat Pak Sitepu, ketua RW kami yang langsung memeluk Mas Darmin yang lagi kesetanan: "sudah..sudah mas.. mati pula dia nanti.. tenang sajalah kau.." katanya dengan logat batak yang kental. Seorang lagi yang menerobos masuk adalah seorang polisi. Dia membantuku berdiri dan dengan formal berkata: "Bapak Darmanto, saya menahan bapak atas tuduhan pemerkosaan terhadap anak di bawah umur. Saya minta bapak ikut saya ke polsek sekarang juga." Aku hanya mengangguk mengiyakan. Kulihat di belakangnya bapak dan ibuku, yu Mini dan keluargaku yang lain melihat semua adegan dahsyat itu dengan melongo tanpa bisa berkata apa-apa.Mas Darmin terus berteriak-teriak: "Ya, Pak polisi.. cepet saja ditangkap si bedes ini. Daripada nanti kalau lepas bisa kalap aku. Tak cacah dagingmu, tak jadikan rawon! tak jadikan sop! tak jadikan rendang..!" sekarang dia mengancam dengan segala jenis masakan yang dia ingat. Aku menghela napas. Dengan gontai aku mengikuti Pak polisi itu, keluar rumahku.
Di depan rumah ternyata ada puluhan orang lain yang sudah berkumpul, para tukang ojek yang mangkal, tetangga, dan orang-orang lain. Semuanya melongo melihatku.Dari dalam masih kudengar teriakan Mas Darmin, menyebut segala jenis makanan yang rencananya akan mempergunakan dagingku sebagai bahan lauknya: "tak jadikan sate! tak jadikan opor!". seorang tetanggaku berteriak mengejek: "entek nasibmu (habis nasibmu) Dar! makanya kalau hidup jangan hanya ngurusi kontol thok!".Ya, memang habislah nasib dan karirku saat ini sebagai dukun. Oh, nasiib..